Shiroi Gakuin


 
HomeHome  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 That evening [P]

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
Tomoyuki Miwa



-Number of posts : 187
-Age : 22
-Side : Yume (Dorm #108)
-Kelas : I-4
-Registration date : 2010-10-28
-Deskripsi Fisik : Rambut kuning pirang | mata biru terang | wajah manis feminin | rambut pendek | memakai anting kecil dikedua telinganya | kulit putih-halus-mulus | bibir merah muda

Character sheet
Chip:
Status:
Pet/Master's name:

PostSubject: That evening [P]   Fri Dec 03, 2010 7:31 am

Timeline : Musim gugur, jam 5 PM

Ia baru saja keluar dari kebun. Menyiram, memupuk dan berbincang dengan tanaman lobak, sudah menjadi kegiatan rutinnya setiap sore selama beberapa hari ini. Mungkin orang-orang berpikir Miwa sedikit tidak waras karena ia senang sekali berbicara dengan tanaman. Namun tidak bagi mereka yang sama-sama mencintai dunia flora. Berbicara dengan tanaman bagaikan terapi bagi tanaman itu sendiri. Entah sudah berapa lama pemuda turunan Kanada-Jepang ini melakukannya. Tertular dari sang ibu, eh? Yah.. Miwa dan ibunya sama-sama gemar berkebun. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di kebun belakang rumah.


Menghela nafas panjang sebelum melangkah menjauh dari kebun. Tiba-tiba saja ia teringat sang ibu. Jujur, ia senang ketika ayahnya memutuskan untuk menyekolahkannya di sini dengan alasan agar Miwa belajar mandiri. Namun di sisi lain ia juga merasa berat hati harus tinggal berjauhan dari ibunya, Miwa tidak terbiasa. Memang, sih setiap hari ibunya mengirimkan pesan pendek atau bahkan juga menelepon untuk menanyakan kabarnya. Tapi—tidak ada yang lebih baik dari sebuah pertemuan, kan?


Tungkainya terhenti ketika tiga orang pemuda bertubuh lebih besar dari Miwa menghalau jalannya. “Ah—selamat sore, senpai.. Bolehkah aku permisi melewati jalan ini?” ujar Miwa dengan sopan seraya membungkuk hormat. Sudah seharusnya ia bersikap sopan kepada mereka yang lebih dewasa, kan? Terlebih lagi mereka adalah kakak kelasnya, Miwa tidak ingin mencari masalah. Ia sendirian di sini. Siapa yang akan menolongnya bila ia terlibat masalah. Tapi—seberapa pun kerasnya Miwa mencoba menghindar, ia tetap saja bertemu dengan orang-orang usil seakan di wajahnya tertulis pesan ‘SILAHKAN JAHILI AKU’.


Seperti yang terjadi saat ini. Walaupun Miwa sudah meminta izin untuk lewat, ketiga pemuda itu tetap tak memberinya jalan. "Tidak boleh!" jawab mereka. Mereka hanya tertawa cekikian ketika pemuda bersurai pirang itu mencoba menerobos, namun apa daya, tubuh Miwa yang mungil tak mampu melawan. “Hey, lihat! Kedua telinganya memakai anting.. Seperti anak perempuan saja..” goda salah satu dari mereka. “Wajahnya juga manis.. Seperti perempuan..” lanjut yg lainnya. Godaan demi godaan mereka lontarnya hingga membuat Miwa jengah. Memang tidak ada perlawanan yang terlihat. Tubuhnya diam mematung, wajahnya tertunduk, bibirnya membisu. Tak ada kata yang terucap untuk menghentikan aksi mereka. Ia terlalu takut untuk melawan, jadi ia membiarkan saja mereka menggodanya sampai puas. Setidaknya—mereka tidak menyentuhnya.


Apa yang ditakutkan Miwa ternyata terjadi. Salah seorang dari mereka mendekat dan mulai menyentuh bokongnya. Ia masih berdiri diam, tak berani melawan. Matanya terasa panas, bulir-bulir air mendesak keluar dari balik bulu mata lentiknya. Sebisa mungkin ia menahannya, ia tidak ingin mereka melihatnya menangis. Terlambat. Mereka terlanjur melihatnya dan tertawa semakin keras. Mereka bilang Miwa cengeng, lagi-lagi seperti—anak perempuan. Mereka bilang Miwa akan menjadi mainan yang asik. Ia tidak mengerti apa maksud mereka dengan ‘mainan’. Ia hanya memiliki firasat bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi padanya bila ia tidak pergi—sesegera mungkin.
Back to top Go down
View user profile
Kunimitsu Yoshihisa



-Number of posts : 47
-Age : 22
-Side : Yume
-Kelas : 1-2
-Registration date : 2010-02-23
-Deskripsi Fisik : rambut hitam pendek dengan mata bewarna hitam. muka datar tanpa ekspersi. selalu memakai kacamata oval

PostSubject: Re: That evening [P]   Thu Dec 09, 2010 12:19 pm

Musim gugur, musim saat daun-daun mulai berjatuhan menandakan bahwa pohon akan mengalami tidur panjang sebentar lagi. Angin dingin sudah mulai berhembus, tanda kalau tidak lama kemudian musim dingin akan datang dan membawa butiran-butiran air beku yang akan diturunkan ke dunia dengan nama salju. Sudah beberapa bulan yang lalu seorang Kunimitsu Yoshihisa berada di sekolah Shiroi Gakuin yang mengkhususkan diri untuk menerima siswa pria. Dan sudah nyaris tujuh bulan dia berada di tempat ini dan sama sekali belum menemukan orang yang dicarinya. Mungkin informasi yang diberikan kepada ayah angkatnya salah. Tidak. Ayahnya tidak pernah salah. Semua yang diajarkan dan diberikan oleh sang ayah adalah yang hal benar, meski semua pelajaran itu tidak disertai dengan rasa cinta kasih layaknya seorang ayah.

Dirinya hanyalah seorang anak yatim piatu biasa, terbuang dan tidak diakui, yang dengan beruntungnya diangkat anak oleh seorang kepala mafia dan dilatih untuk menjadi tangan kanan sekaligus mesin pembunuh yang paling akurat. Bencikah dirinya mendapat semua perlakuan dan pelajaran itu? Pelajaran dimana dia harus bisa mengenai target dengan mata tertutup, pelajaran mengenai anatomi dan titik-titik vital manusia, pelajaran mengenai ketangkasan dan kekuatan, berbagai macam beladiri, dan masih banyak lagi pelajaran yang nyaris tidak bisa diingatnya. Yoshihisa tidak membencinya. Lebih tepat, dia sudah tidak bisa membenci hal itu karena perasaannya sudah mati.

Seorang asasin tidak boleh memiliki perasaan karena hal itu akan menjadi kelemahan yang fatal.

Membalik pelan lembaran-lembaran kertas yang tersusun dan terjilid rapi di atas pangkuannya, dia menatap langit sore yang mulai menggelap saat dia tiba-tiba mengingat nasihat gurunya. Sebentar lagi dia harus kembali ke dalam asrama karena cahaya yang menerangi tulisan di buku bacaannya sudah mulai menghilang. Menunduk lagi untuk melanjutkan membaca beberapa paragraf saat beberapa suara dari arah bawah menganggu konsentrasinya. Suara sopan yang meminta ijin kepada senpainya untuk lewat dan beberapa suara lain yang membalasnya membuat pria berkacamata ini mengalihkan perhatiannya dari tulisan-tulisan asing ke arah bawah sana. Ke arah bawah pohon tempatnya duduk.

Tampak seorang anak mungil berambut pirang yang sedang berusaha melewati beberapa pria bertubuh besar. Tidak diijinkan tentunya karena senpai-senpai yang menghalangi jalan itu sudah menemukan hal menarik yang bisa menghilangkan kebosanan mereka. Dan benar saja, adegan penindasan yang lebih menjurus ke adegan pelecehan mulai terjadi. Menutup pelan buku yang dibacanya, Yoshihisa memandang sang korban yang mulai meneteskan air mata. Menghela nafas lirih, dia melirik daun dan ranting pohon yang menyembunyikan keberadaannya. Mengambil beberapa ranting kecil, pria berambut hitam ini memandang datar ke arah para senpai yang sedang asik menggoda si mungil.

Bidik dan lempar.

Kena. Pasti kena karena dia sudah sangat terlatih. Umpatan-umpatan marah, bingung, dan ekspresi sedikit terpancar dari para senpai itu. Kepala-kepala menoleh untuk mencari sumber dari mana ranting-ranting kecil itu mengenai kepala mereka. Sebuah telunjuk menunjuk ke arah pohon, tempat dia duduk. Jadi dia sudah ketahuan. Cukup cepat mengingat posisinya cukup susah dilihat dan para senpai itu sepertinya bukan orang yang cukup pintar. Memegang bukunya dengan satu tangan, ayunan kaki melayang melewati dahan yang kokoh sebelum sepasang kakinya mendarat dengan santai di atas tegel. Menatap tanpa ekspresi para senpai yang sekarang memandang dirinya dengan kesal, satu gerakan sederhana dilakukannya. Tundukkan kepala dan berjalan mendekati si pirang mungil sebelum memegang tangannya.

“Permisi, senpai.” gerakkan sederhana dikirimkan ke tangan yang memegang si pirang, membawanya pergi sebelum masalah bertambah rumit.
Back to top Go down
View user profile
Tomoyuki Miwa



-Number of posts : 187
-Age : 22
-Side : Yume (Dorm #108)
-Kelas : I-4
-Registration date : 2010-10-28
-Deskripsi Fisik : Rambut kuning pirang | mata biru terang | wajah manis feminin | rambut pendek | memakai anting kecil dikedua telinganya | kulit putih-halus-mulus | bibir merah muda

Character sheet
Chip:
Status:
Pet/Master's name:

PostSubject: Re: That evening [P]   Fri Dec 10, 2010 10:52 am

Ia belum sempat menghapus airmata yang mengalir membasahi pipinya. Ia juga belum sempat menggerakan kaki kecilnya untuk pergi menjauh dari para berandalan ini, kakinya seakan terpaku. Ingin berteriak, namun lidahnya kelu. Tubuhnya membeku, tak mampu bergerak. Selalu seperti itu dan akan selalu begitu. Miwa tidak pernah memiliki keberanian untuk melawan mereka yang senang menindas orang lemah seperti dirinya.


Rahangnya mengeras. Jantungnya berdetak lebih kencang dari batas normalnya. Tangannya mengepal keras. Bukan, bukan untuk memukul ia yang sedang menikmati remasan pada bokong kecilnya. Ia hanya—meredam rasa takutnya, berusaha semampunya agar airmata ini tak mengalir lebih deras. Menangis hanya akan memperburuk keadaan. Ia tahu betul orang semacam mereka akan semakin menjadi-jadi bila 'mainan'nya menangis ketakutan atau bahkan berusaha melawan. Ia sudah terbiasa. Pindah ke sekolah asrama lelaki yang bergengsi ternyata tetap tak menjamin dirinya jauh dari tindak kekerasan dan pelecehan. Hidupnya seakan digariskan untuk selalu menjadi ’korban’.


Siapa saja..

Tolong aku..


“Siapa itu yang melempar?” salah seorang dari mereka bertanya sembari marah-marah karena merasa kepalanya dilempar dengan ranting pohon. Menoleh ke kanan dan ke kiri mencari pelakunya. Dan akhirnya—ketemu. “Hei! Kau,ya yang tadi melempar kepalaku dengan ranting?” teriaknya sembari menunjuk seseorang yang tengah duduk santai di atas batang pohon yang kokoh, entah siapa ia Miwa tidak mengenalnya. Mata birunya terlalu kabur untuk melihat, terhalang airmata.


Orang itu pun turun dari ketinggian. Berjalan santai mendekati si surai pirang lalu memegang tangannya. Tidak ada pemberontakan yang dilakukan Miwa. Hati kecilnya berkata, pemuda ini hendak menolongnya. Membawanya keluar dari tempat itu.


“Ohhh—Jadi si Pirang ini punya pacar..”

“Ternyata dia gay.. Hahahahaha..”

“Dari wajahnya saja sudah kelihatan kalau dia gay, kan? Hahahaha..”


Ejekan demi ejekan mereka tujukan kepadanya. Tapi tidak sampai situ, belum, belum selesai. Mereka belum puas bermain. Dua orang menghalau jalan Miwa dan juga pemuda berkacamata yang menggandengnya. “Siapa suruh kalian pergi? Urusan kita belum selesai, Mata Empat! Kau belum minta maaf pada temanku...” ujar senpai yang satunya seraya mencengkeram erat bahu pemuda si surai hitam ini.
Back to top Go down
View user profile
Kunimitsu Yoshihisa



-Number of posts : 47
-Age : 22
-Side : Yume
-Kelas : 1-2
-Registration date : 2010-02-23
-Deskripsi Fisik : rambut hitam pendek dengan mata bewarna hitam. muka datar tanpa ekspersi. selalu memakai kacamata oval

PostSubject: Re: That evening [P]   Sat Dec 11, 2010 9:42 am

Beberapa langkah saat ejekan-ejekan kembali dilontarkan bagi si pirang mungil. Dugaan salah dilontarkan juga bagi mereka yang diduga pasangan kekasih. Dia tidak peduli dengan ejekan tidak bermutu seperti dan mengenai soal ‘kekasih’ Yoshihisa sampai sekarang sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu. Dan dia tidak berminat dengan laki-laki.

Menghela nafas pelan, nyaris tidak terdengar, mata hitam Yoshihisa memandang lurus ke depan sembari menarik lagi si mungil agar cepat pergi jadi dia tidak perlu terlibat lebih jauh dengan para senpai ini. Harusnya dari awal dia bisa tidak terlibat dengan hal yang menghabiskan waktu ini, tapi dengan bodohnya dia sengaja melibatkan diri. Dia sendiri bingung kenapa dirinya berbaik hati menolong orang yang bahkan sama sekali tidak dikenalnya.

Mungkin ini tanda-tanda kalau dia mulai mengalami kemunduran.
Yang berarti hal gawat.

Kalau dirinya mulai menunjukkan kelemahan-kelemahan manusia berarti kualitas dirinya mulai menurun. Dan ‘keluarga’nya tidak menerima yang namanya kemunduran kualitas, yang ada hanyalah kemajuan kualitas. Kalau hal ini berlangsung terus, cepat atau lambat dirinya akan ‘dibereskan’ karena akan menyebabkan aib di masa mendatang.

Mengerutkan dahi pelan tidak suka saat berpikir seperti itu, tepat ketika beberapa senpai menghadang jalannya. Dan salah satunya mencengkeram erat bahunya. Dari arah belakang yang berarti serangan. Respon segera diterima dan dikirimkan ke pusat saraf. Tanggapan disampaikan kepada otot tangan untuk bergerak menarik dan memutar serta membanting lawan ke depan. Refleks.

Bodoh.

Sekarang dia melibatkan diri lebih jauh ke dalam karena tanpa sengaja membanting orang yang menurutnya tidak layak untuk dilawan. Bukan salahnya kalau gerakkan refleks langsung merespon ketika dia disentuh dari belakang. Yoshihisa sudah diajarkan bahwa semua sentuhan atau gerakan dari belakang menuju dirinya berarti adalah serangan dan dia harus meresponnya dengan cepat. Dan respon ini kemudian diingat oleh tubuhnya secara otomatis sebagai gerak refleks.

Tatapan marah dilontarkan dari kedua senpai yang masih berdiri tegak. Umpatan penuh nada kemarahan meluncur keluar diiringi dengan gerakkan maju untuk menyerang. Melepaskan si mungil karena tidak ingin membuatnya terlibat--yang sekali lagi menunjukkan kebodohan Yoshihisa--dorongan pelan diberikan pada tubuh si pirang kecil agar menjauh. Dan dia kembali menghindar sekaligus membereskan para senpai yang sudah dipenuhi rasa marah ini.
Back to top Go down
View user profile
Tomoyuki Miwa



-Number of posts : 187
-Age : 22
-Side : Yume (Dorm #108)
-Kelas : I-4
-Registration date : 2010-10-28
-Deskripsi Fisik : Rambut kuning pirang | mata biru terang | wajah manis feminin | rambut pendek | memakai anting kecil dikedua telinganya | kulit putih-halus-mulus | bibir merah muda

Character sheet
Chip:
Status:
Pet/Master's name:

PostSubject: Re: That evening [P]   Sun Dec 12, 2010 12:14 am

Tangan besar itu masih memegangnya ketika Miwa menghapus sisa-sisa airmata dengan jemari mungilnya. Ia dapat mendengar dengan jelas ketika senpai itu mengatakan bahwa urusan mereka dengannya belum selesai. Senpai itu menyuruh pemuda berkacamata di sampingnya ini untuk meminta maaf. Tidak semestinya ia yang meminta maaf. Pemuda ini tidak bersalah, sama sekali tidak. Mereka yang memulainya lebih dulu, mereka yang menyulutnya dan pemuda bersurai-hitam-yang-tidak-diketahui-siapa-namanya ini hanya berusaha menolong Miwa—orang yang mereka tindas.


Si pirang terdiam, lagi-lagi hanya diam. Wajahnya tertunduk lesu, manik biru teduhnya menatap bumi yang ia pijak. Tanpa ia sadari, tangannya mengepal keras—sedikit bergetar. Miwa mencium aroma kekerasan bila ia tak segera bertindak. Bukan, bukan berlari menghindar atau memukul lebih dulu. Ia harus minta maaf, seperti sebelum-sebelumnya. Meminta maaf untuk hal yang bahkan bukan kesalahannya, lalu membiarkan mereka menertawakannya. Yah.. Memang itu lah yang mereka inginkan, sebuah—hiburan.


BRUK!


“AH!” Teriakan kecil meluncur dari bibir tipisnya ketika dilihatnya tubuh sang senpai jahil ambruk ke tanah, dibanting oleh pemuda berkacamata ini—hanya dengan satu tangan. Miwa segera menutup mulutnya dengan tangan yang satunya, sementara kedua matanya masih membelalak dan mengerjap, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan. Dan akhirnya Miwa pun memberanikan diri mengangkat kepalanya, menatap ia yang masih memegang tangannya. Wajah pemuda itu nampak tak bersahabat, terlihat jelas kemarahan dari caranya memandang dua orang senpai yang juga sama marahnya dengan dia. Umpatan demi umpatan terlontar dan ditujukan kepada si pemuda kacamata. Sekarang bukan lagi Miwa yang menjadi sasaran, melainkan dia.


Salah satu senpai menarik lengan bajunya dan bersiap untuk menyerang. Pegangan tangan Miwa dilepaskan, tubuhnya didorong pelan, pertanda ia harus menjauh. Sepertinya akan terjadi perkelahian. Ya, pasti akan terjadi. Mengapa jadi begini? Ia tidak menginginkan hal ini terjadi, tidak pernah ingin. Ia tidak suka kekerasan. Namun apa yang ia khawatirkan terjadi. Senpai itu melayangkan tinjunya ke arah pemuda berkacamata.


Oh, tidak.. Jangan!


“AWAS!” Teriak Miwa memperingatkan si surai hitam seraya menutup kedua matanya dengan tangan. Ia tak sanggup melihat adegan berikutnya. Terlalu mengerikan.
Back to top Go down
View user profile
Kunimitsu Yoshihisa



-Number of posts : 47
-Age : 22
-Side : Yume
-Kelas : 1-2
-Registration date : 2010-02-23
-Deskripsi Fisik : rambut hitam pendek dengan mata bewarna hitam. muka datar tanpa ekspersi. selalu memakai kacamata oval

PostSubject: Re: That evening [P]   Mon Dec 13, 2010 11:31 am

Teriakan peringatan dari si pirang saat salah satu senpai itu melayangkan pukulan ke wajahnya. Bergerak sedikit ke kiri, serangan itu bisa dihindari dengan mudah. Mudah bagi dirinya karena sudah terbiasa menghadapi lawan-lawan yang jauh lebih tangguh, seperti gurunya. Atau mungkin beberapa orang yang berprofesi sama dengan dirinya tetapi berasal dari pihak lawan dan ukuran tubuhnya jauh lebih besar.

Ukuran tidak menentukan segalanya.

Kembali nasihat dari gurunya muncul di otaknya saat rasa sakit dirasakannya pada daerah pipi. Tidak luka, hanya sedikit merah karena terserempet cincin yang dikenakan pada jari tengah sang senpai. Tidak perlu dikhawatirkan karena besok juga hilang, tapi patut disembunyikan sebelum salah satu bawahanny--atau yang paling parah gurunya--sampai melihat hal ini. Kegagalan berarti kematian.

Menghela nafas pelan, kaki kirinya bergerak maju setengah langkah dan kaki kanannya membawa tubuhnya bergeser ke kiri. Menangkap tinju yang baru saja diarahkan ke mukanya dengan tangan kanan, tangan kirinya yang bebas bergerak untuk menghantam dagu sang senpai yang merupakan salah satu titik vital manusia. Kaki kiri bergerak lagi, kali ini membentuk setengah lingkaran sambil menarik tangan sang senpai yang dicengkram, putar 180 derajat kemudian turunkan lengan lawan ke bawah dan lemparkan ke depan. Biarkan tubuh sang lawan berputar di udara sebentar sebelum gaya gravitasi menariknya jatuh.

Salah satu gerakkan favoritnya yang dulu pernah sekali diperagakan oleh sang guru Aikido kepada dirinya sendiri. Sakit jelas karena yang menghantam alas pertama kali adalah punggung. Belum lagi bahan yang menjadi alas kali ini bukanlah kayu yang digunakan di dalam dojo, tetapi tegel yang terbuat dari semen dan batu yang dicetak dengan padat.

Mengalihkan perhatian pada senpai satunya yang masih menunggu giliran untuk menyerang, Yoshihisa memasang kuda-kuda. Bukan kuda-kuda untuk menyerang tetapi kuda-kuda untuk bertahan karena dia sama sekali tidak berniat menyerang balik, hanya berusaha mempertahankan diri meski berarti dirinya harus membuat tiga orang senpai itu merasakan sakit karena menghantam tanah.

Teriakan penuh kemarahan dilontarkan saat senpai itu maju dan melayangkan tendangan. Lambat. Sangat lambat apabila dibandingkan dengan gerakan pisau yang dilemparkan atau panah yang ditembakkan ke arah kepalanya. Sekali lagi tendangan tidak berarah itu bisa ditepis dengan mudah dan membuat sang penyerang kehilangan keseimbangannya.

Sekarang, berhubung semua penyerangnya sudah tersungkur di tanah berarti dirinya sudah bisa pergi dengan membawa si pirang. Mungkin. Karena kalau menduga dari sifat para senpai itu mereka bukanlah orang yang mudah menyerah. Dan benar saja, tepat saat berpikir seperti itu umpatan kasar dikeluarkan lagi dari tiga senpai yang sekarang bangkit lagi dan siap membalaskan dendam mereka.

Kau bodoh, Kunimitsu Yoshihisa.
Back to top Go down
View user profile
Tomoyuki Miwa



-Number of posts : 187
-Age : 22
-Side : Yume (Dorm #108)
-Kelas : I-4
-Registration date : 2010-10-28
-Deskripsi Fisik : Rambut kuning pirang | mata biru terang | wajah manis feminin | rambut pendek | memakai anting kecil dikedua telinganya | kulit putih-halus-mulus | bibir merah muda

Character sheet
Chip:
Status:
Pet/Master's name:

PostSubject: Re: That evening [P]   Mon Dec 13, 2010 2:11 pm

Jeda beberapa detik selepas ia berteriak memperingatkan si pemuda kacamata, senpai jahil itu pun turut berteriak mengumpat seraya melayangnya tinjunya. Apa yang terjadi kemudian, Miwa tidak tahu. Kedua tangannya menutup rapat wajahnya, tidak sempat melihat perkelahian di hadapannya. Ia hanya mendengar suara, mirip seperti benda berat yang jatuh, lalu diikuti dengan erangan kesakitan.


Apa yang terjadi?
Ada apa?
Suara apa itu?



Perlahan-lahan Miwa melebarkan jemarinya, membiarkan safir birunya mengintip sedikit aksi laga di depannya. Mengerjap sekali mendapati tubuh sang senpai tergeletak di atas tanah, bergerak ke sana dan ke sini sambil mengaduh pelan. Pandangannya kini beralih pada sang pahlawan yang terlihat bersiap sedia—memasang kuda-kuda karena permainan belum usai. Masih ada satu orang lagi.


Terdorong oleh rasa setia kawan—tidak senang sahabat karibnya diperlakukan demikian, senpai terakhir berteriak penuh amarah dan mengumpat. Sebuah tendangan dilayangkan sang senpai kepada si pemuda kacamata. Miwa nyaris berteriak—lagi, mana kala melihat adegan perkelahian bak film aksi itu. Beruntung ia cepat-cepat menutup mulutnya hingga teriakan itu tertahan di kerongkongannya. Coba bayangkan bila ia berteriak tadi, mungkin akan memecahkan konsentrasi sang pemuda pahlawan. Begitulah yang terjadi dalam film-film yang pernah ia tonton bersama dengan ayahnya.


Merngerjap sekali lagi, menatap tiga tubuh kakak kelasnya yang tersungkur di tanah. Ia nyaris tak percaya semua ini dilakukan oleh dia. Seorang pemuda yang tidak ia kenal, bahkan belum pernah dilihatnya selama bersekolah di sini. Kedua tangannya menjuntai lemas, kembali menatap ketiga senpai dan pemuda itu secara bergantian.


Wahhh—
He-hebat..



Tubuh-tubuh itu mulai bangkit. Mereka tidak menyerah rupanya. Satu per satu mereka mulai melancarkan serangan kedua. Ini tidak adil. Sangat tidak adil. Mereka bertiga, sedangkan pemuda itu sendirian. Tidak boleh. Curang.


He?
Apa itu?



Miwa melihat senpai terakhir mengeluarkan sebilah pisau lipat dari saku celananya seraya menyeringai tajam ke arah si pemuda kacamata. Miwa tidak yakin pemuda itu melihat apa yang sedang dipegang oleh sang senpai. Gelisah. Bingung. Bercampur menjadi satu, ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia masih takut untuk membantu melawan mereka. Tapi ia juga tak bisa membiarkan pemuda ini berjuang sendirian—demi dirinya.


Senpai dengan pisau mulai bergerak mendekati sang pemuda. “AWAS PISAU!” teriak Miwa sambil berlari, berusaha mencegah sang senpai. Namun naas, entah bagaimana caranya—Miwa terjatuh oleh kecerobohannya sendiri. Dagunya terantuk tegel hingga meninggalkan luka lecet yang begitu kontras di kulit putihnya. Kepalanya terangkat, memberanikan diri melihat apa yang terjadi dengan sang pemuda yang tengah diserang dengan—pisau.



Back to top Go down
View user profile
Kunimitsu Yoshihisa



-Number of posts : 47
-Age : 22
-Side : Yume
-Kelas : 1-2
-Registration date : 2010-02-23
-Deskripsi Fisik : rambut hitam pendek dengan mata bewarna hitam. muka datar tanpa ekspersi. selalu memakai kacamata oval

PostSubject: Re: That evening [P]   Sun Dec 26, 2010 12:21 pm

Menarik nafas dan mengeluarkannya nyaris tanpa terlihat kalau dia sedang mendesah saat mendengar teriakan penuh peringatan dari si pirang. Yoshihisa kembali memandang para senpai yang sekarang ini mulai menggunakan cara kotor untuk menjatuhkan dirinya. Sebuah pisau dikeluarkan untuk masing-masing orang, yang berarti ada tiga buah pisau yang tergenggam erat dan siap ditusukkan kapan saja pada dirinya. Kerutan tipis muncul di dahinya dan tangannya mulai beranjak ke arah belakang pinggangnya, siap mengambil pisau lempar yang selalu dibawa dan diletakkan di daerah situ.

Tapi lawan dirinya adalah orang biasa. Orang-orang yang sebenarnya tidak layak untuk menjadi lawan Kunimitsu Yoshihisa. Jadi, dia membatalkan niatnya untuk melemparkan beberapa pisau sebagai gertakan. Berbahaya kalau perbuatannya ini terlihat orang lain. Bisa-bisa Yoshihisa dikeluarkan dari sekolah karena sudah melakukan pelanggaran dengan menyerang orang dengan senjata tajam dan dia akan mendapatkan hukuman juga dari keluarganya.

Kembali memasang kuda-kuda meski dia sudah malas, mata hitamnya menatap tajam kepada tiga orang senpai itu. Menunggu mereka siap menyerang dan dirinya sudah siap untuk mempertahankan diri. Diiringi teriakan penuh kemarahan ketiga pria yang lebih senior dari Yoshihisa maju bersamaan. Bukan hal yang mengerikan karena dia sudah terbiasa diserang oleh banyak orang sekaligus.

Menghindari ke samping saat pisau yang digenggam erat oleh salah satu senpai itu ditusukkan ke arah perutnya yang tentu saja luput. Menangkap tangan pemegang pisau, Yoshihisa berputar setengah badan sebelum memukulkan tangan kanannya ke arah rahang si senpai. Menarik dan menekan siku si senpai, pria berkacamata ini mengambil pisaunya dengan tangan kiri sebelum melemparkan sang senpai ke arah belakang. Mungkin lebih tepat dikatakan kalau dia setengah membanting sang senpai.

Memandang pisau lipat kecil di tangan kirinya, perhatian Yoshihisa beralih pada dua orang senpai yang masih berusaha menyerangnya. Tangan kirinya sudah maju dan berniat menusukkan pisau pada genggamannya tersebut sebelum dia berhasil mengingatkan diri kalau lawannya kali ini hanyalah orang biasa. Hal bodoh yang berhasil membuat sebuah luka gores pada punggung tangan kirinya.

Melirik warna merah yang mengalir perlahan, Yoshihisa menimbang-nimbang pisau yang masih dipegangnnya. Dan dengan gerakan yang nyaris tidak terlihat, dia melemparkan pisau itu ke arah salah satu senpai yang berada di samping kirinya. Tidak akan kena. Yoshihisa sudah memprediksi kalau lemparannya itu meleset karena dia memang sengaja melakukan hal itu dan membiarkan pisaunya tertancap dengan sukses ke pohon, tentunya dengan meninggalkan sebuah luka tipis di pipi sang senpai.

Menolehkan kepalanya ke arah kanan tempat senpai satunya lagi berada, Yoshihisa sudah siap menangkis serangan yang akan diberikan ketika teriakan penuh kebencian terdengar dari arah belakangnya tempat senpai pertama terjatuh tadi. Sekarang hal apa lagi yang akan dilakukan oleh orang-orang yang pantang menyerah tersebut? Mencoba menusuk lagi, atau mungkin kembali memukul dan menendang ,atau bahkan mengambil sandera? Entahlah, Yoshihsa tidak tahu sebelum dia berbalik.
Back to top Go down
View user profile
Tomoyuki Miwa



-Number of posts : 187
-Age : 22
-Side : Yume (Dorm #108)
-Kelas : I-4
-Registration date : 2010-10-28
-Deskripsi Fisik : Rambut kuning pirang | mata biru terang | wajah manis feminin | rambut pendek | memakai anting kecil dikedua telinganya | kulit putih-halus-mulus | bibir merah muda

Character sheet
Chip:
Status:
Pet/Master's name:

PostSubject: Re: That evening [P]   Sun Jan 02, 2011 5:12 pm

Miwa nyaris menutup matanya dengan kedua tangannya ketika senpai itu mencoba menghujamkan pisaunya ke arah pemuda kacamata. Syukurlah pemuda itu bisa menghindar dengan cepat. Miwa pun segera berdiri setelah terjatuh tadi. Menyaksikan adegan kekerasan itu dengan mata telanjang. Belum pernah ia melihat hal seperti ini begitu nyata di hadapannya. Selama ini adegan seperti ini hanya ia lihat di dalam film-film aksi.


Ini tidak benar. Tindakan kekerasan ini tak bisa dibiarkan berlangsung terus menerus. Miwa harus melakukan sesuatu, tapi apa? Berteriak minta tolong pun ia tak berani. “Ahh—“ teriakan kecil terlontar dari bibir mungilnya ketika satu buah goresan melukai punggung tangan kiri si pemuda kacamata. Hatinya begitu pedih melihat cairan merah merembes keluar dari luka itu. Pemuda itu tak seharusnya mendapatkannya. Hanya demi menolong Miwa, ia jadi berhadapan dengan ketiga senpai itu dan kini—tangannya terluka.


Miwa masih terus menyaksikan. Ia dapat melihat dengan jelas bagaimana pemuda itu melemparkan pisau yang tadi berhasil ia rebut dari senpai jahat, lalu melesat ke arah senpai yang lainnya. Pisau itu menancap di batang pohon, dan meninggalkan luka gores di pipi sang senpai. Hebat. Keren. Persis aksi jagoan di salah satu film yang pernah Miwa tonton.


Ia terus menatap sang jagoan dengan tatapan penuh kekaguman. Hebat, sungguh hebat. Namun masalah belum selesai—rupanya. Senpai terakhir berteriak penuh kemarahan dari arah belakang tempat senpai pertama dijatuhkan oleh si pemuda kacamata. Belum puas rupanya. Senpai itu mengeluarkan pisau lipat juga, namun kali bukan untuk menyerang pemuda kacamata itu melainkan—dirinya.


Entah bagaimana caranya, tahu-tahu lengan senpai itu kini telah membekap dirinya dengan sebilah pisau tajam berkilat di arahkan kepadanya. Semuanya terjadi begitu cepat. Miwa tak bisa berkutik. Ia takut, sangat takut. Matanya mulai terasa pedas, airmata memaksa keluar, mengalir membasahi pipinya. Tak pernah ia bayangkan sebelumnya bahwa hal seperti ini akan terjadi pada dirinya.


Tolong..


OOC : Gomen kalo lebay/ngaco/aneh.. Mata udh tinggal 5 watt.. YM aja kalo salah.. *kecupabang* *digerus*
Back to top Go down
View user profile
Kunimitsu Yoshihisa



-Number of posts : 47
-Age : 22
-Side : Yume
-Kelas : 1-2
-Registration date : 2010-02-23
-Deskripsi Fisik : rambut hitam pendek dengan mata bewarna hitam. muka datar tanpa ekspersi. selalu memakai kacamata oval

PostSubject: Re: That evening [P]   Fri Jan 14, 2011 1:11 am

Teriakan kemarahan lagi dari salah satu senpai yang dijatuhkannya. Menatap datar sang senpai yang berlari ke arahnya, Yoshihisa sudah siap menyerangnya lagi saat pria itu melewati dirinya dan berlari ke arah si pirang. Hal selanjutnya sudah bisa ditebak oleh Yoshihisa. Senpai itu menyandera si pirang. Bagus sekali, dirinya sudah pasti harus menyelamatkan anak yang membuatnya terpaksa bertarung. Bukan kesalahan anak itu sebenarnya, dirinya sudah salah dari awal karena mau menyelamatkan dan mencampuri urusan orang lain. Bukti bahwa dirinya masih punya sedikit rasa manusiawi.

Berbalik perlahan untuk melihat pemandangan yang bisa dibilang sudah biasa bagi dirinya, Yoshihisa mengutuki dirinya karena begitu bodoh. Dia sudah melanggar larangan pertama dalam aturan 'keluarga'nya. Jangan pernah libatkan orang lain. Mengerutkan kening sedikit yang nyaris tidak terlihat, otak Yoshihisa berputar untuk memecahkan masalah ini. Biasanya dalam situasi seperti ini yang dilakukannya adalah melemparkan pisau tipis dan tajam yang selalu dibawanya. Hanya saja dalam situasi yang sekarang dia tidak bisa melakukan hal tersebut.

Orang yang menjadi musuhnya hanyalah orang biasa.

Sebisa mungkin Yoshihisa tidak ingin membuat kerusakan yang permanen dan parah. Jadi tidak mungkin dia melemparkan senjata tajam yang bisa saja menembus kepala yang jelas menyebabkan kematian atau luka ringan seperti tangan yang tertusuk. Bagi Yoshihisa luka tusuk bukanlah luka berat karena hal itu masih bisa sembuh dalam waktu tidak terlalu lama tapi tentu luka seperti itu akan menjadi luka berat bagi sang senpai.

Sepasang mata hitam Yoshihisa bergulir ke sekitarnya, mencari-cari sesuatu yang mungkin saja bisa digunakan untuk menghentikan perbuatan kriminal sang senpai. Ranting? Itu juga bisa melukai karena ranting juga tajam dibagian ujungnya. Kalau batu, bisa digunakan hanya saja agak susah diambil dan bisa saja sang senpai itu melukai si pirang yang menjadi sanderanya kalau Yoshihisa melakukan gerakan yang mencurigakan. Atau dia harus memanggil polisi untuk menyelesaikan masalah dalam lingkungan ini? Pilihan ketiga jelas tidak bisa dilakukan, dia sudah melanggar aturan pertama dan dia tidak akan melanggar aturan yang kedua. Sebisa mungkin jangan libatkan polisi dalam masalah atau pekerjaan.

Memandang nyaris tanpa ekspresi, Yoshihisa teringat sesuatu benda yang berada di saku celananya. Benda yang bisa dilempar dan tidak akan melukai. Memasukkan perlahan tangannya seraya maju selangkah demi selangkah, sedikit mengabaikan ancaman sang senpai yang akan melukai si pirang kalau dia maju lagi. Berhenti sekitar tiga meter dari arah sang senpai yang memandangnya dengan tatapan sedikit ketakutan, perintah marah diberikan kepada dua temannya yang memegang pelan kedua lengannya erat.

Melirik kedua orang senpai yang memegang tangannya, Yoshihisa mengeluarkan benda yang berada di sakunya. Dia sudah siap menyerang kapan saja hanya tinggal menunggu waktu yang tepat, yaitu saat sang senpai merasa lebih rileks dan mengendurkan pegangannya dari si pirang yang sepertinya akan terjadi cepat atau lambat. Dugaannya benar, saat melihat kedua lengannya sudah dicengkeram erat oleh kedua temannya, sang senpai yang menjadi penyandera itu mengendurkan sedikit pegangannya. Saat-saat yang ditunggu Yoshihisa.

Menyentakkan keras kedua pasang lengan yang mencengkeramnya dan menjegal kedua orang senpai penahannya dengan cepat, Yoshihisa langsung melemparkan benda yang berada di tangannya. Bolpoin dengan kondisi tertutup tentu tidak akan memberi luka yang parah tapi cukup untuk membuat sakit dan kaget untuk menjatuhkan senjata yang dipegang. Seperti saat ini, pisau lipat yang dipegang oleh sang senpai penyandera terjatuh saat bolpoin itu membentur punggung tangannya. Berlari mendekat ke arah senpai itu, Yoshihisa menarik si pirang agar terlepas dan memukul dagu sang senpai.

Menarik nafas pelan, Yoshihisa memandang ketiga senpai tersebut dengan tatapan membunuh dan memperingatkan. Dia tidak ingin membuat masalah di sekolah barunya dan tentu saja ketiga senpai tersebut tidak ingin dikeluarkan sebelum mereka lulus. Peringatan sudah dia berikan tanpa kata-kata dan para senpai itu sepertinya sudah mengerti karena mereka langsung pergi sambil mengumpat-umpat. Tidak masalah, Yoshihisa sudah biasa jadi dia tidak peduli.

"Kau terluka?" nada datar seraya memandang si pirang mungil yang berada di sampingnya.
Back to top Go down
View user profile
Tomoyuki Miwa



-Number of posts : 187
-Age : 22
-Side : Yume (Dorm #108)
-Kelas : I-4
-Registration date : 2010-10-28
-Deskripsi Fisik : Rambut kuning pirang | mata biru terang | wajah manis feminin | rambut pendek | memakai anting kecil dikedua telinganya | kulit putih-halus-mulus | bibir merah muda

Character sheet
Chip:
Status:
Pet/Master's name:

PostSubject: Re: That evening [P]   Thu Jan 27, 2011 3:42 am

Matanya terpejam, tak berani melihat terlebih lagi membayangkan apa yang akan terjadi padanya dengan pisau lipat menghunus lehernya. Berkomat-kamit dalam hati meminta dewa-dewi melindunginya gara ia bisa selamat tanpa luka sedikit pun. Seumur hidupnya, ia memang sering menjadi sasaran empuk kejahilan kakak kelasnya. Tapi ini—yang terburuk yang pernah ia alami.

Cairan asin itu semakin deras menuruni pipi merahnya. Ingin berteriak tapi tak mampu, lidahnya terlalu kelu untuk mengucap kata. Kakinya bergetar, tak mampu menopang tubuhnya lebih lama lagi. Dan ketika ia nyaris merosot jatuh ke tanah, dirasakannya pisau lipat milik sang senpai terjatuh. Sudah selesai kah?

Manik sebiru langit itu membuka dan mendapati entitas berkacamata menarik tubuhnya menjauh dari sang senpai hingga Miwa terlempar agak jauh ke belakang lalu terduduk di tanah berbatu. Dilihatnya si pahlawan mata empat itu memukul dagu sang senpai dan memandang mereka dengan tatapan tajam yang menyeramkan. Apakah meraka sudah jera? Ya, ketiga senpai itu pergi meninggalkan mereka berdua sambil mengumpat. Akhirnya selesai sudah drama penyiksaan ini.

Lega. Sangat lega. Tapi apakah benar-benar sudah berakhir? Hari ini Miwa beruntung bertemu manusia baik hati yang mau menolong. Bagaimana bila nanti Miwa diserang lagi dan tak ada orang ini di sampingnya? Akan kah ada orang selain dia yang mau menolongnya?

"Kau terluka?"

Suara bernada datar itu tertuju padanya, jelas karena memang hanya ada mereka berdua di sana. Wajah Miwa terangkat, ditatapnya manik hitam pekat itu dengan mata yang masih berair. Jemarinya terangkat, menunjuk dagunya sendiri yang lecet akibat terantuk tegel. “Ini—“ Bisakah disebut luka?
Back to top Go down
View user profile
Kunimitsu Yoshihisa



-Number of posts : 47
-Age : 22
-Side : Yume
-Kelas : 1-2
-Registration date : 2010-02-23
-Deskripsi Fisik : rambut hitam pendek dengan mata bewarna hitam. muka datar tanpa ekspersi. selalu memakai kacamata oval

PostSubject: Re: That evening [P]   Fri Feb 11, 2011 10:13 am

Memandang datar ke arah si pirang mungil yang terduduk di tanah karena akibatnya juga, Yoshihisa berjongkok untuk memandang dagu si pirang yang rupanya sedikit lecet. Luka kecil dan bukan disebabkan oleh senjata tajam, lebih dikarenakan oleh gesekan benda kasar, seperti batu misalnya atau aspal. Memandang lekat-lekat luka itu dia memegang dagu si pirang mungil, mengangkatnya naik ke atas agar dia bisa melihat lebih jelas luka itu.

"Tidak terlalu parah."

Melepaskan tangannya dari dagu si pirang mungil, tangannya menyusup ke dalam saku celana dan mengeluarkan sebuah plester yang kebetulan di bawanya. Bukan berarti dia selalu membawa-bawa benda kecil untuk menutup luka itu. Hanya sebuah kebetulan saja benda kecil berbentuk persegi panjang berwarna coklat dan elastis itu tidak sengaja terselip di dalam sakunya. Entah siapa yang memasukkannya, Yoshihisa tidak terlalu peduli karena dia memang tidak pernah menggunakan benda itu. Kalau luka dia biasanya hanya membersihkannya dengan cairan antiseptik dan dibiarkan sembuh sendiri. Lagipula dia sudah cukup terbiasa dengan luka jadi tidak terlalu masalah.

Membersihkan luka yang untungnya tidak terlalu kotor itu, Yoshihisa membuka pembungkus plester itu dan menempelkannya pelan-pelan ke luka lecet si mungil. Paling tidak dengan begini luka itu tidak akan kotor karena debu dan infeksi. Dia harus menyuruh si mungil itu untuk membersihkannya nanti dan mengobatinya lebih lanjut, yang dilakukannya hanyalah sebuah pertolongan pertama.

Bangkit dari posisi jongkoknya, Yoshihisa mengulurkan kedua tangannya ke arah si mungil yang masih terduduk di tanah yang dikarenakan oleh kesalahannya juga karena tadi dia sempat menarik pria itu. Dia hanya menawarkan bantuan agar si pirang bisa bangun berdiri, terserah bantuan itu mau diterima atau tidak. Kalau diterima ya sudah kalau tidak juga tidak masalah baginya, dia tidak begitu peduli.
Back to top Go down
View user profile
Tomoyuki Miwa



-Number of posts : 187
-Age : 22
-Side : Yume (Dorm #108)
-Kelas : I-4
-Registration date : 2010-10-28
-Deskripsi Fisik : Rambut kuning pirang | mata biru terang | wajah manis feminin | rambut pendek | memakai anting kecil dikedua telinganya | kulit putih-halus-mulus | bibir merah muda

Character sheet
Chip:
Status:
Pet/Master's name:

PostSubject: Re: That evening [P]   Fri Feb 18, 2011 9:52 am

Manik sebiru langit itu memandang sang penolong dari posisi bawah tempatnya duduk akibat terjatuh tadi. Tinggi. Tipikal lelaki sejati. Yah, seorang laki-laki itu seharunya memiliki tubuh seperti dia. Tinggi, postur tubuh tegap, pembawaan tenang dan kalem, juga pandai bela diri. Tidak seperti dirinya, berbeda jauh—sangat. Pendek, mungil, kecil, lemah—persis anak perempuan. Menyedihkan, ya.


Mata bulatnya masih terus memperhatikan pemuda itu. Dia yang awalnya diam, kini bergerak, dan jongkok di hadapan Miwa. Otomatis jarak pandangnya jadi semakin dekat. Ia dapat melihat wajah pahlawannya dengan jelas sekarang. Rambut hitam kelam yang tersisir rapi, senada dengan warna mata di balik lensa oval yang dikenakannya.


Miwa terlihat begitu serius menjelajah setiap garis yang terukir di wajah sang pemuda kacamata. Memperhatikan dengan detail bagaimana batang hidung itu terbentuk sempurna, tulang pipi yang sedikit menonjol, rahang yang keras, juga bibir yang—


Tiba-tiba saja tangan pemuda itu terjulur dan memegang dagunya. Mengangkatnya sedikit ke atas hingga jarak wajah mereka semakin dekat. Tanpa dikomando, seperti biasanya, wajah Miwa berubah merah merona tanpa mampu ia kendalikan.


"Tidak terlalu parah."


Ujar pemuda itu sambil melepaskan tangannya dari dagu Miwa. Lega dirasakan pemuda pirang itu, cepat-cepat ia menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang masih merah. Ia malu bila terus menerus berdekatan seperti tadi. Kalau diteruskan bisa-bisa ia mimisan atau bahkan pingsan. Belum pernah terjadi, sih tapi—sepertinya pasti akan begitu.


Rupanya belum selesai. Pemuda itu kembali memegang dagunya dan menempelkan sesuatu ke lukanya. Dilihat sekilas, bentuknya mirip seperti plester. Ya, itu pasti plester. Kebetulan sekali ia membawa plester, jadi Miwa tak perlu khawatir lukanya kemasukan debu selama perjalanan kembali ke kamar asrama nanti.


Selesai?


Pemuda kacamata itu berdiri, lalu kemudian mengulurkan kedua tangannya ke arah Miwa. He? Apa maksudnya? Apakah ia ingin menggendong Miwa? “Ung.. Aku bisa berjalan sendiri, kok. Yang luka, kan cuma dagu.” Ujarnya polos.
Back to top Go down
View user profile
Kunimitsu Yoshihisa



-Number of posts : 47
-Age : 22
-Side : Yume
-Kelas : 1-2
-Registration date : 2010-02-23
-Deskripsi Fisik : rambut hitam pendek dengan mata bewarna hitam. muka datar tanpa ekspersi. selalu memakai kacamata oval

PostSubject: Re: That evening [P]   Wed Feb 23, 2011 7:12 am

Uluran tangan masih juga belum disambut oleh si pirang mungil. Menatap datar dan tanpa ekspresi, Yoshihisa menjulurkan tangannya itu untuk menyentuh kedua tangan si mungil dan menariknya. Memaksa jelas. Biasanya dia tidak pernah melakukan hal ini pada orang lain, tapi apa boleh buat. Dirinya sudah menerjunkan diri ke masalah yang dihadapi oleh si mungil, dan dia juga terpaksa sedikit berolahraga dan melemaskan otot dengan berkelahi dengan beberapa senpai itu. Bukan salah si pirang mungil, dia sendiri yang sudah melibatkan diri ke dalamnya untuk menolong si pirang yang tampak lemah. Rasa kasihan kah? Entahlah, Yoshihisa sendiri tidak tahu. Yang jelas, bagi dirinya kalau ingin menolong jangan tanggung-tanggung, yang berarti dia harus mengantarkan si mungil kembali ke kamarnya, setidaknya ke asrama minimal.

Bisa dilihat kalau pemuda pirang ini juga satu asrama dengan dirinya, asrama Yume. Bajunya yang dominan diwarnai dengan warna kuning dan warna merah memberitahukan dengan jelas jenis asrama mana sang pirang berasal. Yah, dia sempat mendengar kalau ada juga asrama baru yang tidak ingin terikat dengan perbedaan warna hitam dan merah. Tidak masalah dan Yoshihisa tidak peduli. Dia hanya mengikuti prosedur yang sudah diberikan dan dia akan menjalakan itu sampai akhir.

Membiarkan tubuh yang lebih kecil dan ringan itu tertarik melawan gaya gravitasi, tangan Yoshihisa menangkap tubuh mungil itu, siap menjaganya agar tidak jatuh ke arah lain yang mungkin saja menimbulkan luka yang lebih parah.

"Kamar nomor berapa?" bertanya datar.

Menatap sepasang manik biru langit itu, telinga Yoshihisa siap menangkap dan mencerna jawaban yang akan diberikan oleh sang pirang mungil. Tentu saja kalau sang pirang itu mau menjawabnya, kalau dia tidak berkenan menjawab pertanyaannya Yoshihisa cukup membawanya ke koridor asrama dan si pirang itu bisa kembali sendiri ke kamarnya. Atau mungkin dia bisa membawanya ke ruang kesehatan agar luka lecet yang tidak seberapa itu bisa mendapatkan perawatan yang lebih lanjut sebelum menimbulkan infeksi. Yoshihisa tidak pernah meremehkan yang namanya luka, meski kecil luka itu bisa berdampak besar. Dan hal itu juga berlaku bagi tangannya yang sedikit tergores. Nanti kalau sudah berada di kamar, dia memastikan akan membersihkan luka gores itu dengan antiseptik sebelum mengobatinya.

Jadi, sekarang tinggal mengantar sang pirang mungil kembali ke kamarnya dan urusannya dia dengan si pirang itu sudah beres.

Back to top Go down
View user profile
Tomoyuki Miwa



-Number of posts : 187
-Age : 22
-Side : Yume (Dorm #108)
-Kelas : I-4
-Registration date : 2010-10-28
-Deskripsi Fisik : Rambut kuning pirang | mata biru terang | wajah manis feminin | rambut pendek | memakai anting kecil dikedua telinganya | kulit putih-halus-mulus | bibir merah muda

Character sheet
Chip:
Status:
Pet/Master's name:

PostSubject: Re: That evening [P]   Mon Feb 28, 2011 4:00 am

Mata bulatnya menatap heran ke arah tangan yang terjulur padanya. Untuk apa? Yang terluka, kan hanya dagunya, lagipula hanya luka lecet. Kedua kakinya baik-baik saja, ia masih bisa berjalan kembali ke kamar asramanya tanpa di gendong kok.

Tapi sepertinya pemuda kacamata ini tidak mau tahu. Ditariknya kedua tangan Miwa hingga pemuda pirang itu berdiri. Memang dasar cowok lemah, ditarik begitu saja sudah langsung terangkat. Dan bodohnya lagi, menjaga keseimbangan tubuhnya sendiri pun ia tidak bisa. Lihat saja tubuhnya yang limbung begitu ditarik si pemuda kacamata, nyaris terjatuh—lagi. Beruntung pemuda rambut hitam itu dengan sigap menjaganya. Alih-alih terjatuh ke atas tanah lagi, Miwa malah mendarat di tubuh besar sang pemuda.

...

Nyaris memeluk entitas yang telah menolongnya sore ini. Mendengarkan irama detak jantungnya yang berdegup lebih lambat dari miliknya. Membiarkan indera penciumannya mengeksplorasi aroma tubuh yang berbeda dengan dirinya. Aneh. Sepertinya ia sendiri yang aneh, bukan si pemuda kacamata.

"Kamar nomor berapa?"

He? Miwa tersentak ketika pemuda itu menanyakan nomor kamar asramanya. Untuk apa? Rasanya tidak mungkin, kan ia berbuat macam-macam setelah menolongnya tadi? Apakah ia akan melakukan sesuatu sebagai imbalan? Waduh, bagaimana ini?

Takut menyinggung perasaan, perlahan Miwa melepaskan dirinya dari tubuh sang pemuda dan mengambil satu langkah mundur ke belakang, memberi sedikit jarak diantara mereka. “No-nomor kamar? U-untuk apa?” tanyanya ragu dengan wajah sedikit tertunduk, menyembunyikan rona merah yang tadi sempat hinggap.
Back to top Go down
View user profile
Kunimitsu Yoshihisa



-Number of posts : 47
-Age : 22
-Side : Yume
-Kelas : 1-2
-Registration date : 2010-02-23
-Deskripsi Fisik : rambut hitam pendek dengan mata bewarna hitam. muka datar tanpa ekspersi. selalu memakai kacamata oval

PostSubject: Re: That evening [P]   Fri Mar 11, 2011 1:50 am

Ternyata dugaannya benar. Sang pria pirang mungil kehilangan keseimbangan dan jatuh dengan sukses di dadanya. Dia sudah mempertimbangkan hal ini dan sudah cukup yakin kalau dia akan menjaga tubuh sang mungil. Menunduk untuk memandang gerumpulan berwarna pirang yang merupakan rambut si mungil, tangannya sudah bergerak untuk mendorong sang pirang agar bisa berdiri dengan tegak dan sebelum bisa melakukan tindakan ini sang pemuda mungil sudah menarik dirinya sendiri dan mundur satu langkah.

Mata hitamnya memandang sepasang biru langit saat pertanyaan heran meluncur dari sang pirang mungil. Untuk apa dia menanyakan nomor kamar sang pirang. Yoshihisa sendiri juga bingung kenapa dirinya mau repot-repot melakukan hal ini. Tapi, seperti prinsipnya dia yang sudah melakukan sesuatu harus bertanggung jawab sampai akhir. Dalam hal ini dia harus bertanggung jawab mengantarkan sang mungil sampai kamarnya dengan selamat. Paling tidak dia bisa membawanya ke ruang kesehatan untuk diobati luka lecet yang terbentuk di dagu sang pemuda pirang. Hal yang tadi dilakukannya hanyalah sekedar membersihkan dan menempelkan plester agar debu dan kotoran lain tidak masuk ke dalam luka yang terbuka dan membuat infeksi.

"Kuantar ke kamar. Atau kau mau ke ruang kesehatan saja?"

Bertanya dengan wajah datar dan tatapan lurus ke sepasang iris biru langit dihadapannya. Yah, kalau si pemuda keberatan diantar kembali ke kamar dia bisa membawanya ke ruang kesehatan dan kalau si pirang itu masih juga keberatan, Yoshihisa akan meninggalkannya di tempat ini dan menganggap tanggung jawabnya sudah selesai. Tindakannya hanya tergantung dengan jawaban sang pirang, kalau dia memang tidak mau makan Yohihisa tidak akan memaksanya. Dia bukanlah tipe pemaksa, perkecualian jika dirinya sedang bertugas. Segala hal akan dilakukannya untuk membuat korbannya berbicara dan membocorkan semua rahasianya.
Back to top Go down
View user profile
Sponsored content




PostSubject: Re: That evening [P]   Today at 4:09 am

Back to top Go down
 
That evening [P]
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» The Ghost's Festival [OPEN] [SITE EVENT]

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Shiroi Gakuin :: Way of Heaven-
Jump to: