Shiroi Gakuin


 
HomeHome  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 A Violinist With Headphone and Lolipop [ Open ]

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
Raven d'Isley



-Number of posts : 1803
-Age : 24
-Side : Yume
-Kelas : III-1
-Registration date : 2009-03-09
-Deskripsi Fisik : mata merah, rambut hitam berantakan, kulit putih pucat, tinggi besar, bisa ditemukan lolipop atau headphone di sekitar tubuh, 2 anting perak di telinga kiri.

Character sheet
Chip:
Status: none
Pet/Master's name: none

PostSubject: A Violinist With Headphone and Lolipop [ Open ]   Sun Sep 12, 2010 12:22 am

Langit siang menuju sore adalah sesuatu yang ajaib. Warna biru mulai bercampur dengan warna jingga yang masih minim.

Dibawah langit itu, seorang pemuda berkulit pucat melangkahkan kakinya di sekitar area halaman belakang yang luas. Lalu berjalan melalui deretan pohon-pohon besar di Way of Heaven. Dan akhirnya si pemuda pun tiba di sebuah menara jam tua yang benar-benar meninggalkan sebuah memori berdarah di kepalanya. Perjalanan yang cukup jauh. Mungkin tadi sebaiknya sekalian jogging saja, hitung-hitung olahraga.

Di bahu kanannya, tergantung sebuah case biola yang terbuat dari plastik keras berwarna hitam. Di mulutnya, ada sebuah lolipop rasa melon sedang dikulum. Di wajahnya, kacamata bertangkai hitam bertengger manis di hidung. Di telinga kirinya, 2 tindikan perak mengklaim lokasinya. Di lehernya, sebuah Headphone yang dulu tersimpan di kotak kardus kini kembali hinggap di tempat seharusnya.

Raven d'Isley, itulah nama pemuda yang memiliki ciri-ciri tersebut di atas.

Anak tangga demi anak tangga Raven lalui untuk sampai ke atap menara tua ini. Mata merahnya mengelilingi lahan luas dengan pagar pembatas ketika sampai di puncak. Sama seperti dulu, minus bau khas peperangan. Pagar pembatas yang dulu patah belum diperbaiki juga ya? Benar-benar tidak terurus ya.

Alasan Raven kesini? Karena dia ingin melatih permainan biolanya. Jarang ada murid yang kesini merupakan salah satu alasannya agar tidak terganggu. Kedua tangannya membuka kunci yang menjaga biolanya tetap aman. "Halo teman," gumam Raven kepada sahabatnya sejak kecil. "Mohon bantuanmu."

Headphone yang menganggur dia posisikan di kedua telinganya. Raven memilih sebuah musik klasik yang akan dimainkannya melalui sebuah Music Player mini di dalam saku celananya. Biola diposisikan di antara dagu dan bahu kiri. Penggesek sudah berada di antara jari-jari tangan kanan. Semua sudah siap. Satu gesekan memulai sebuah melodi yang mengalun dengan tegas namun mengalir.

Hungarian Dance No. 5. Salah satu karya Brahms. Musik peperangan.
Back to top Go down
View user profile
Rion Valcryst



-Number of posts : 2005
-Age : 23
-Side : Yume
-Kelas : II-4
-Registration date : 2009-02-13
-Deskripsi Fisik : Berambut biru gelap, warna matanya biru kristal dan berkulit putih. Tidak tinggi, namun bentuk badannya terbentuk karena latihan bela diri. Ekornya panjang dan tebal.

Character sheet
Chip:
Status: Pet
Pet/Master's name: Jun Stanislav

PostSubject: Re: A Violinist With Headphone and Lolipop [ Open ]   Sun Sep 12, 2010 7:11 am

Ah, siapa sangka kalau pemandangan dari atas menara ini sangatlah indah?

Rasanya Rion merasa beruntung karena sudah berani untuk membuka -mendobrak lebih tepatnya- pintu menara jam tua ini dan memanjati anak tangganya hingga ia sampai diatas menara. Kedua mata birunya sekarang merefleksikan cahaya jingga kemerahan yang dipantulkan oleh sinar matahari yang hendak mempermisikan dirinya. Sudah satu jam Rion berada diatas sini, menikmati pemandangan ini.

Nampaknya tidak banyak murid-murid yang berdatangan dan naik ke atas menara ini. Kalau begini caranya, nampaknya sang serigala silver ini menemukan tempat baru untuk menghabiskan waktu luangnya. Atau jika ia boleh bermain sedikit kekanak-kanakkan, mungkin ini akan menjadi tempat rahasia Rion. Itu juga kalau belum ada yang menemukannya yah.

Terduduk, menyender di dinding salah satu sisi menara jam tua tersebut, nyaris saja kedua mata Rion tertutup dikarenakan angin segar yang berhembus lembut melewati tubuhnya. Tetapi sayangnya kedua matanya tidak jadi tertutup dikarenakan telinga serigalanya yang bergerak naik karena mendengar alunan musik.

Eh? Biola? Ada orang disini? Rasanya tidak mungkin suara tersebut berasal dari bawah menara. Terlalu dekat juga. Ah, jangan bilang tempat favoritnya sudah mulai diketahui? Agak mengecewakan namun mau bagaimana lagi. Manusia juga pasti punya rasa ingin tahu untuk mengeksplorasi lingkungan sekelilingnya.

Rion akhirnya memutuskan untuk melihat siapa yang tengah memainkan biola tersebut. Merangkak, bukan berdiri, layaknya serigala yang tengah mencari tahu ada apa dibalik semak-semak, Rion melangkahkan kedua tangan dan kedua kakinya untuk mencapai sebelah sisi lain di menara jam tersebut, untuk meliat siapa gerangan yang memainkan biola dengan musik siap perang tersebut.

Kedua mata birunya menangkap sosok berambut hitam tengah memainkan biolanya. Hmm, nampaknya Rion pernah melihat laki-laki ini. Dimana yah? Bukan didalam sekolah sih rasanya. Tapi dimana? Ah, biarkan saja, itu bisa ditanya nanti. Pet serigala silver ini lebih tertarik dengan permainan biola laki-laki berambut hitam itu. Entah mengapa, melihat orang lain bermain biola membuat Rion juga ingin menempelkan jarinya di senar-senar tersebut dan menggeseknya dengan bulu-bulu putih halus itu.
Back to top Go down
View user profile
Ishii Akio



-Number of posts : 538
-Age : 20
-Side : Negau
-Kelas : I-1
-Registration date : 2010-08-17
-Deskripsi Fisik : rambut hitam legam, warna mata hitam. Warna kulit, putih wjr, ga pucet. tsurime eyed. no double eyelid

Character sheet
Chip:
Status: none
Pet/Master's name:

PostSubject: Re: A Violinist With Headphone and Lolipop [ Open ]   Sun Sep 12, 2010 8:36 am

Siapa sangka 'penelusuran sekolah' yang dilakukan Akio saat awal-awal masuk sekolah bisa menemukan tempat yang sekarang menjadi favoritnya ini? Ini kali kedua Akio mengunjungi menara jam sekolah ini, dan Akio sudah langsung suka pada kali pertama ia menemukan tempat ini. Alasannya ya, bagus saja. Saat yang paling disukanya untuk mengunjungi menara adalah saat-saat menjelang senja. Kalau cuacanya bagus, saat senja, langitnya bisa nampak seperti ada kuning telur yang pecah di langit. Warna kuning-jingga nya merembes ke gradasi biru langit yang menggelap.

Begitu membuka pintu menara jam yang dalamnya langsung ada tangga menuju puncak, Akio disambut oleh bunyi gesekan senar khas biola. Melantunkan nada-nada dari lagu klasik yang familiar di telinga Akio. Suaranya kecil, jauh di atas. Reflek, Akio mendatangi sumber bunyi itu berasal, ke atas. Sambil melangkahi anak-anak tangga, Akio mencoba mengingat lagu apa yang dimainkan biola ini. Ia yakin pernah mendengarnya, toh adiknya pemain piano berbakat dan serius menekuni aliran klasik- tak seperti dirinya. Agak beda memang, dengan yang dimainkan adiknya di piano. Namun percuma, Akio tak dapat menyebutkan judul lantunan itu. Cuma ia tahu, ini Brahms. Yang penting, bunyi biola ini makin menghias suasana.

Sampailah Akio di puncak menara, dan menemukan dua sosok. Ah, sosok satunya rupanya pet. Ekor dan telinganya memang dengan gampangnya bisa dibedakan dari orang biasa. Bukan pertama kali lagi Akio melihat pet di sekolah ini, jadi Akio sudah mulai agak terbiasa. Ia mengira-ngira pet apa sosok yang lebih kecil sedikit dari dirinya itu.

Akio berdehem kecil untuk sekedar menandakan keberadaannya, tak ada maksud untuk mengganggu permainan biola atau apapun yang sedang kedua orang itu lakukan.
Back to top Go down
View user profile
Raven d'Isley



-Number of posts : 1803
-Age : 24
-Side : Yume
-Kelas : III-1
-Registration date : 2009-03-09
-Deskripsi Fisik : mata merah, rambut hitam berantakan, kulit putih pucat, tinggi besar, bisa ditemukan lolipop atau headphone di sekitar tubuh, 2 anting perak di telinga kiri.

Character sheet
Chip:
Status: none
Pet/Master's name: none

PostSubject: Re: A Violinist With Headphone and Lolipop [ Open ]   Mon Sep 13, 2010 11:14 am

Aliran yang sangat tegas di awal. Gesekan tertekan yang berat dan cepat, menandakan bahwa sang prajurit siap melawan musuh yang akan dihadapinya. Musik mulai melambat beberapa belas detik setelahnya, alunan melodi mulai berjalan normal dan perlahan-lahan mengecil. Tiba-tiba saja sebuah nada kejutan mengawali sebuah permaianan penuh semangat. Lalu menghalus lagi.

Raven menikmati setiap melodi singkat yang dimainkannya, apalagi musik perang ini mempunyai tingkat kecepatan dan kehalusan yang tiba-tiba. Benar-benar menantang! Di tengah-tengah lagu, saatnya bermain kecepatan. Jari-jari terlatihnya menari-nari di atas senar, bergerak sesuai dengan emosi dan tangga nada yang sudah hapal di luar kepala.

Musik kembali ke nada awal, dengan cekatan Raven memindahkan jarinya ke senar terpilih dan serat-serat putih menggesek dengan tekanan yang luar biasa. Sebentar lagi musik akan berakhir, namun Raven tidak berhasil memainkannya sampai selesai.

CKKRIEEEEETTT KRIIIIIKKKK!!

Suara memilukan itu sangat ketara karena sampai terdengar di telinga Raven yang sedang ditutupi headphone. "Ckck..." langsung saja Raven menurunkan biolanya dan melepas headphone yang melantunkan karya Brahms sampai habis. Raven gagal. Jujur saja, tangannya masih belum cukup sehat untuk memainkan lagu berat. Walaupun luka-luka sayatan yang membekas itu sudah tidak terasa sakit, mereka masih menganggu keterampilan tangannya.

Untuk kesekian kalinya, mata merah Raven melihat telapak tangannya. "Masih perlu dilatih.." Raven menghela nafas. Tak lama berselang, suara dehaman kecil terdengar di belakangnya. Ternyata daritadi Raven tidak sendirian disini.

Dehaman itu berasal dari seorang pemuda berambut hitam panjang. Tak jauh darinya, ada pet bertelinga serigala yang sepertinya pernah Raven temui. Mata mereka tertuju pada Raven. "Eer... Selamat sore?" senyumnya kikuk sambil mengangkat tangannya yang masih memegang penggesek sebagai salam.
Back to top Go down
View user profile
Rion Valcryst



-Number of posts : 2005
-Age : 23
-Side : Yume
-Kelas : II-4
-Registration date : 2009-02-13
-Deskripsi Fisik : Berambut biru gelap, warna matanya biru kristal dan berkulit putih. Tidak tinggi, namun bentuk badannya terbentuk karena latihan bela diri. Ekornya panjang dan tebal.

Character sheet
Chip:
Status: Pet
Pet/Master's name: Jun Stanislav

PostSubject: Re: A Violinist With Headphone and Lolipop [ Open ]   Tue Sep 14, 2010 11:45 am

Ah, laki-laki ini benar-benar ahli dalam memainkan biola. Membuat tangan Rion gatal untuk kembali menyentuh gitar kecil yang digesek tersebut untuk dimainkan ditangannya. Sungguh, mendengar permainan lelaki berambut hitam ini membuat Rion cukup bernostalgia dengan memorinya dulu saat ia diajarkan bagaimana caranya memainkan biola yang baik dan benar.

Sungguh lucu, mengingat sang alat musik yang biasa melantunkan nada indah tersebut tiba-tiba memperdengarkan bunyi memilukan ketika berada di tangannya. Tapi tentu itu adalah saat pertama kali Rion menyentuh biola. Namun dirinya sekarang juga sudah lama tak menyentuh biola. Entah apakah tangan kirinya masih lihai ketika menari diatas senar atau tidak. Atau tangan kanannya masih bisa menggesek dengan lembut dan cekatan atau tidak. Yang jelas, permainan lelaki berambut hitam ini membuat Rion ingin menyentuh biola lagi.

Rion memang tidak begitu hapal judul musik klasik. Ia hanya memainkan apa yang ada hitam diatas putih. Memainkan deretan not nada diantara kelima baris pengaturnya. Mengikuti cepat dan lambatnya permainanpun ia ikuti dari situ. Karena itulah Rion tak begitu hapal dengan nama musik yang ia mainkan. Asal bunyi indah terdengar untuk sang almarhum Master, Rion tak masalah dengan hal itu. Tapi itu dulu.

Telinganya kemudian berdiri ketika mendengar suara pilu dari sang biola, membuat Rion terlonjak sedikit. Ah, bukan hal yang mengejutkan, mengingat suara seperti itu juga sering sekali Rion keluarkan dulu saat berlatih dengan biolanya. Kedua mata birunya sempat menangkap luka-luka di jari sang lelaki berambut merah ketika ia memandangi tangannya.

Ah? Pemula 'kah ia? Tapi kalaupun pemula, tidak akan sampai luka separah itu, kecuali jika ia berlatih dengan sangat keras. Mengingat jari merupakan nyawa sang violinist jika ia ingin permainannya berlangsung sempurna. Baiklah, itu berlebihan. Intinya, jari sang violinist tak boleh sampai terluka.

Telinganya kembali bergerak ketika mendengar suara orang berdeham. Melongokkan kepalanya ke sisi yang lain lebih dalam dan melihat lelaki berambut hitam lainnya.

Menyadari posisi Rion yang masih merangkak, dengan segera Rion berdiri, mengangkat tubuhnya. Agak malu juga. "Ah, sore juga.. Maaf, tak maksud mencuri dengar.. Tetapi permainan anda bagus kok.." Sebelum bunyi pilu tadi muncul, tetapi memang benar apa yang dikatakan Rion. Senyum tulus di bibirnya mengatakan itu semua. Kedua mata biru mudanya kemudian menatap laki-laki yang baru saja berdeham tadi, tersenyum ramah, "Halo, selamat sore.."

Oh iya. Tampaknya ini jadi bukan tempat rahasianya lagi. Ah, biarlah.
Back to top Go down
View user profile
Ishii Akio



-Number of posts : 538
-Age : 20
-Side : Negau
-Kelas : I-1
-Registration date : 2010-08-17
-Deskripsi Fisik : rambut hitam legam, warna mata hitam. Warna kulit, putih wjr, ga pucet. tsurime eyed. no double eyelid

Character sheet
Chip:
Status: none
Pet/Master's name:

PostSubject: Re: A Violinist With Headphone and Lolipop [ Open ]   Tue Sep 14, 2010 6:11 pm

Permainan biola oleh pria yang setelah diamatinya memiliki iris merah pekat itu berakhir. Tidak berakhir dengan mulus, sih, terutama tiga not penutup- tapi tetap saja hebat. Pada umumnya potongan lagu karya Brahms tadi dimainkan dengan emosi yang tepat dan cukup mengena. Memang sih, kalau biola solo rasanya agak sepi. Tapi entah kenapa, kalau dimainkan di piano, solo pula, menurutnya sudah... 'pekat'. Yah,setidaknya itu hanya pendapat awam Akio.Tanpa protes apapun, Akio reflek menepuk tangannya ringan. Ngomong-ngomong, kalau ingat biola, jadi ingat seseorang- uh, oke. Akio menggelengkan kepalanya sesaat.

"Hai," balasnya menyapa sapaan kedua orang berada di ruangan yang sama dengan Akio. "Aku nggak maksud untuk ganggu kegiatan kalian. Teruskan saja apa yang kalian kerjakan tadi," jelasnya. Kemudian Akio menoleh kepada si pemain biola. "Oh ya... yang tadi itu judulnya apa, ya?" barulah Akio menyadari kalau tangan si pemain biola itu penuh luka. Bukan di jari, sih, tapi tetap saja. Akio sempat berpikir apa ia pernah terhempas ombak di daerah pantai yang banyak karangya...tapi kayaknya bukan seperti itu. Dia punya luka di punggung juga tidak ya...

Selagi menunggu respon si jangkung, Akio melirik ke telinga dan ekor yang khas dari sosok satunya lagi. Apa ya... errr... anjing? serigala? rubah? Tanpa sadar Akio memegangi dagunya sambil mengira-ngira.
Back to top Go down
View user profile
Raven d'Isley



-Number of posts : 1803
-Age : 24
-Side : Yume
-Kelas : III-1
-Registration date : 2009-03-09
-Deskripsi Fisik : mata merah, rambut hitam berantakan, kulit putih pucat, tinggi besar, bisa ditemukan lolipop atau headphone di sekitar tubuh, 2 anting perak di telinga kiri.

Character sheet
Chip:
Status: none
Pet/Master's name: none

PostSubject: Re: A Violinist With Headphone and Lolipop [ Open ]   Sat Sep 18, 2010 11:39 am

"Ahaha, terima kasih banyak, tetapi kupikir permainanku tidak sebagus yang kamu kira," senyum ringan membalas senyum cerah pet bertelinga serigala, atau anjing, itu. Tentu saja senyum Raven juga ditujukan kepada
pemuda berambut hitam yang bertepuk tangan untuknya. Menurut Raven, ia tidak pantas mendapatkan pujian atas permainannya tadi. Ia gagal, bukan? Dan Raven harus memperbaiki kualitas permainannya, sesegera mungkin.


"Apakah aku pernah bertemu denganmu sebelumnya?" Raven meletakkan perlengkapan biolanya sebelum berjalan mendekat dan bertanya kepada sang pet, "Wajahmu tidak asing," wajahnya yang penuh tanya sempat ia dekatkan untuk mengamati pet tersebut.

"Kamu sama sekali tidak mengganggu, permainanku baru saja selesai, dengan suara yang memekakkan telinga sebagai penutupan," jawab Raven setengah tersenyum kepada pertanyaan yang mungkin tidak ditujukan kepadanya. Ya, suara penutupan yang luar biasa hebat, mungkin bisa dijadikan sebagai senjata supersonic. "Judulnya Hungarian Dance No. 5. Kamu tertarik dengan lagu itu?" tanyanya sedikit bersemangat. Siapa tahu pemuda itu punya selera musik klasik.

Mau tidak mau Raven sadar kalau keempat mata di depannya memperhatikan kedua tangannya yang penuh dengan bekas luka yang abstrak. Agar tidak mengganggu pemandangan, Raven memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Mungkin mereka merasa terusik melihat goresan membekas di sepanjang kedua tangan Raven.
Back to top Go down
View user profile
Rion Valcryst



-Number of posts : 2005
-Age : 23
-Side : Yume
-Kelas : II-4
-Registration date : 2009-02-13
-Deskripsi Fisik : Berambut biru gelap, warna matanya biru kristal dan berkulit putih. Tidak tinggi, namun bentuk badannya terbentuk karena latihan bela diri. Ekornya panjang dan tebal.

Character sheet
Chip:
Status: Pet
Pet/Master's name: Jun Stanislav

PostSubject: Re: A Violinist With Headphone and Lolipop [ Open ]   Fri Oct 01, 2010 9:53 am

Rion tersenyum menatap pemuda yang baru saja datang tersebut, "Ah, kamu sama sekali tak menganggu kok.. Aku juga sedang bersantai saja disini.." Ya, memang benar, bersantai menikmati tempat -yang sebelumnya Rion anggap tempat rahasianya- diatas menara jam tua ini sambil menikmati pemandangan mengesankan didepan mata biru muda kristalnya.

Pemuda berambut hitam dengan bermata merah tersebut nampak merasa kalau permainannya tadi tidak sebagus apa yang dikata Rion dan pemuda berambut hitam yang baru saja datang. Yah, Rion mengerti bagian penutup tersebut memang tidak semulus yang dikira, tetapi hal seperti itu biasa terjadi bukan saat berlatih biola? Begitu juga dengan Rion, ia sendiri juga sangat sering melakukan kesalahan saat bermain biola dulu.

"Tidak masalah di bagian terakhir kurasa, kesalahan sering terjadi.. Diawal dan ditengah permainan, permainanmu bagus kok.." Menyunggingkan senyum ramah kepada laki-laki bermata merah tersebut. Senyum yang jujur, tentu saja, sesuai dengan kata-katanya yang baru saja diucapkan.

Kemudian laki-laki berambut merah tersebut merapihkan kembali biolanya didalam tas biolanya, tersimpan rapih dan kemudian berjalan mendekati Rion. Dan mendekatkan wajahnya juga, refleks membuat Rion melangkahkan kakinya mundur. "Eh..? Hmm, aku rasa kita memang pernah--"

Oh, katakan kalau Rion masih memijakkan sebelah kakinya diatas bata semen, apapun itu, di jam menara ini? Karena entah mengapa saat melangkah mundur, sebelah kakinya tidak merasakan sedang menapak apapun kecuali udara sejuk yang tengah berhembus. Oh, memang tidak menapak benda padat ternyata. Bagus.

Kehilangan keseimbangan refleks membuat Rion dengan segera menggerakkan tangannya dan meraih jaket bergaris yume pemuda bermata merah di depannya, menahan tubuhnya yang untuk ukuran laki-laki digolongkan ringan. Beruntung Rion segera menarik dirinya dan kembali menapakkan kedua kakinya diatas benda padat kembali. Tidak berada diatas udara.

Suara teriakkan memang tidak keluar dari tenggorokan Rion, tetapi nampak jelas sekali dari wajahnya yang kaku kalau Rion kaget dengan kejadian barusan. Kalau tidak meraih jaket laki-laki di depannya ini, mungkin Rion sudah terjun bebas dari ketinggian yang... Entah berapa meter tingginya ini. Tangannya kemudian melepas jaket laki-laki bermata merah ini dan tertawa kaku.

"A..hahaha, nyaris aja.. Maaf tiba-tiba menarik jaketmu.." Menggaruk kepalanya yang tidak gatal, hanya senyum dan tawa kaku yang bisa Rion berikan sekarang.
Back to top Go down
View user profile
Ishii Akio



-Number of posts : 538
-Age : 20
-Side : Negau
-Kelas : I-1
-Registration date : 2010-08-17
-Deskripsi Fisik : rambut hitam legam, warna mata hitam. Warna kulit, putih wjr, ga pucet. tsurime eyed. no double eyelid

Character sheet
Chip:
Status: none
Pet/Master's name:

PostSubject: Re: A Violinist With Headphone and Lolipop [ Open ]   Fri Oct 01, 2010 10:28 am

Baiklah, sepertinya ia diterima di komunitas kecil kecilan ini. Tidak seperti sebelumnya, waktu pertama kalinya ia menelusuri menara ini—dua orang dengan mood yang tidak tepat untuk Akio berada di sana. Sebelum apa-apa Akio sudah cabut duluan, menghindari yang tidak diharapkan. Cuma berapa menit ya kunjungan terakhirnya ke menara ini? Hahaha. Padahal tempat ini akan sangat bagus kalau dipakai buat hal-hal yang santai dan menenangkan seperti ini.

Balasan yang sudah diduganya, si pemain biola menolak halus komplimennya. Dan, ah iya—Hungarian Dance, namanya! Sekarang ia ingat. Adiknya yang pianis itu dulu sering memainkannya. Kalau Akio… belum levelnya. Hhhh. Tapi Akio memang tidak ada niatan serius di piano, kok. Jadi tidak masalah, kan. Karena ia mengenal lagu ini, tentu ia punya rasa ketertarikan dengan lagu ini.

“Begitulah. Aku baru pertama kali mendengar lagu ini versi biolanya ssecara langsung. Biasanya aku dengar yang versi piano. Adikku dulu sempat memainkannya. Kalian memainkannya dalam kunci yang berbeda,” simpul Akio setelah mendengar permainan Hungarian Dance mereka. Akio yakin kalau di piano, lagu tadi dimainkan di kunci F sharp minor. Kalau yang ini... apa, ya? G minor? Jujur, Akio sangat sangat menyukai musik klasik. Akio juga suka musik genre lain, sih. Fleksibel, lah.

Dan sepertinya dari pembicaraan dua orang ini… mereka tampaknya saling kenal. Atau semacam itu. Akio jadi merasa ‘alienated’ di sini. Si pet sempat hampir jatuh tadi, tapi tampaknya ia bisa mengatasinya sendiri. Pet memang mengagumkan. Ngomong-ngomong... sebagai ice breaker, apa ia perkenalkan dirinya saja, ya?

“Err… tampaknya sudah saling kenal, ya. Kenalkan juga, boleh? Aku Ishii Akio. Dari kelas I-1,” sekarang Akio jadi berpikir ulang lagi apa benar keberadaannya diperlukan di sini. Haha. Yah, Akio ke sini juga hanya ingin bersantai, sih… memang, kalau bisa sendirian. Tapi tidak bisa egois begitu, kan, namanya juga bangunan publik.


Last edited by Ishii Akio on Sun Oct 03, 2010 6:29 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Raven d'Isley



-Number of posts : 1803
-Age : 24
-Side : Yume
-Kelas : III-1
-Registration date : 2009-03-09
-Deskripsi Fisik : mata merah, rambut hitam berantakan, kulit putih pucat, tinggi besar, bisa ditemukan lolipop atau headphone di sekitar tubuh, 2 anting perak di telinga kiri.

Character sheet
Chip:
Status: none
Pet/Master's name: none

PostSubject: Re: A Violinist With Headphone and Lolipop [ Open ]   Sun Oct 03, 2010 4:56 am

"Begitukah? Baiklah kalau begitu," balas Raven dengan senyum tipis. Kalau boleh jujur, kesalahan besar seperti tadi tidak pernah terjadi selama bertahun-tahun. Lengkingan kecil bisa dimaklumi tetapi kalau lengkingan luar biasa yang bisa memutuskan senar menandakan tangan Raven masih bermasalah. Sempat dirasakan tangan kanannya yang memegang senar bergetar. Mungkin Raven harus memainkan lagu-lagu medium atau ringan dulu untuk membiasakan tangannya.

"Ternyata adikmu pemain piano ya?" ucap Raven semangat kepada Akio, mengalihkan perhatiannya sebentar dari si pet serigala atau anjing, "Hungarian Dance versi piano? Pasti susah sekali karena lagu ini tidak mudah untuk dimainkan dalam tuts piano. Maklum saja, Ini lagu yang dimainkan untuk orkestra," memang sayang si rambut hitam bukanlah pemain pianonya tetapi itu cukup. Mengetahui ada orang yang mempunyai selera musik klasik sudah lebih dari cukup untuk Raven.

"Aah, ternyata kamu adik kelasku," senyum hangat tersungging di bibir Raven, "Namaku Raven d'Is--woaa!!," perkenalan diri berakhir karena sesuatu terjadi kepada dirinya dan si pet. Tiba-tiba saja jaketnya ditarik dengan sangat kuat sampai-sampai Raven harus berjuang untuk menahan dirinya dengan menapakkan kedua kakinya kuat-kuat sesegera mungkin sebelum tubuh besarnya tertarik.

Apa yang mata semerah darah itu lihat di depannya benar-benar tidak bisa dianggap remeh karena berurusan dengan hidup dan mati. Pet itu hampir terjun bebas dari atas menara yang tingginya puluhan meter! Refleks, Raven mengeluarkan tangannya dari saku untuk membantu si pet menarik dirinya lagi ke permukaan lantai. Kalau saja Raven tidak memiliki tenaga yang kuat, mereka berdua akan terbang bebas menuju ke permukaan bumi.

"Tadi itu nyaris sekali," Raven mengatur nafas dan detakan jantungnya yang tidak beraturan. Kulit wajahnya yang sudah pucat bertambah pucat. Pet itu juga sama pucatnya dengan Raven, dia tampak kaget dan shock. "Tidak apa-apa, kamu sudah aman," tangannya yang besar mengelus pelan rambut biru si pet untuk menenangkannya. "Ini lolipop untukmu, siapa tahu kamu bisa tenang dengan makanan manis," lalu Raven memberikan 2 lolipop ke tangan si pet yang dingin.

"Namaku Raven d'Isley, kelas III-1. Senang berkenalan denganmu," tidak lupa Raven meneruskan perkenalannya yang terputus tadi, "lalu ini juga untukmu," 2 buah lolipop pun berpindah tangan ke tangan pemuda bernama Ishii Akio tersebut.

"Lebih baik kita meneruskan perbincangan kita disana saja agar kejadian tadi tidak terulang lagi," ucapnya ringan sambil menunjuk tempatnya bermain biola.
Back to top Go down
View user profile
Rion Valcryst



-Number of posts : 2005
-Age : 23
-Side : Yume
-Kelas : II-4
-Registration date : 2009-02-13
-Deskripsi Fisik : Berambut biru gelap, warna matanya biru kristal dan berkulit putih. Tidak tinggi, namun bentuk badannya terbentuk karena latihan bela diri. Ekornya panjang dan tebal.

Character sheet
Chip:
Status: Pet
Pet/Master's name: Jun Stanislav

PostSubject: Re: A Violinist With Headphone and Lolipop [ Open ]   Fri Oct 15, 2010 9:22 am

Ternyata, tempat yang disukai itu tidak selalu aman yah. Yasudah, jadikan itu pelajaran saja rasanya. Salah Rion sendiri yang terlalu santai melangkah padahal tidak banyak tempat berpijak di menara jam yang sangat tinggi ini. Senyum di wajahnya masih terpasang kaku meskipun perlahan nafasnya sudah mulai teratur dan Rion sudah mulai bisa bersikap santai kembali. Toh, elusan lembut dari tangan laki-laki bermata merah ini juga entah mengapa cukup menenangkan Rion.

"Sangat nyaris.. Terima kasih sudah menjadi tempat peganganku tadi.. Hahaha.." Pria bermata merah itu tiba-tiba memberinya 2 permen lolipop kepadanya. Yah, memang kata banyak orang makanan manis bisa menenangkan. Sayangnya Rion terkadang tidak begitu sering memakan makanan manis. Untungnya ini lolipop, coba kalau coklat. Belum tentu Rion mau memakannya, "Wah, makasih lagi yah..! Baik sekali.."

Sebelah tangannya memasukkan salah satu permen lolipop ke dalam sakunya lalu mulai membuka bungkus makanan manis tersebut, "Ah, namaku Rion Valcryst, dari kelas II-4.. Salam kenal yah.." Dan mulai mencicipi permen lolipop tersebut di dalam mulutnya. Kepalanya mengangguk dengan wajah riangnya mendengar tawaran dari laki-laki bernama Raven itu.

"Adikmu bermain piano..? Hebat sekali, dulu aku sempat coba memainkannya, tetapi sayangnya aku tak begitu tahan dengan piano.." Cerianya menanggapi cerita dari laki-laki yang bernama Akio itu.
Back to top Go down
View user profile
Ishii Akio



-Number of posts : 538
-Age : 20
-Side : Negau
-Kelas : I-1
-Registration date : 2010-08-17
-Deskripsi Fisik : rambut hitam legam, warna mata hitam. Warna kulit, putih wjr, ga pucet. tsurime eyed. no double eyelid

Character sheet
Chip:
Status: none
Pet/Master's name:

PostSubject: Re: A Violinist With Headphone and Lolipop [ Open ]   Tue Oct 26, 2010 5:46 am

Si pemain biola ini, rendah hati sekali. Yah memang pada umumnya kalau yang sudah jago, malah makin rendah hati. Tapi ada juga sih, yang makin sombong. Pemuda ini tidak yang seperti itu. Akio pun menanggapi pernyataan si violinist.

"Hmm. Setiap kali aku menonton adikku memainkannya, entah kenapa rasanya terlihat gampang sekali. Effortless. Tapi tentu saja aku yakin itu hanya karena ia sudah jago memainkannya. Aku pernah melihat partitur pianonya, dan... susah," Akio menggelengkan kepalanya. "Tapi setahuku sih, lagu itu bukan khusus orkestra... Justru, lagu piano yang dibuat versi orkestranya setelah itu," ...begitulah pendapat awam Akio yang hanya sebagai pengagum musik klasik, terutama piano. Akio sendiri... hanya bisa membanggakan dua lagu yang bisa dimainkannya di piano. Claudine dan... Croatian Rhapsody. Itu pun, dimainkan dengan jelek. Für Elise yang terkenal sekali itu pun, Akio tidak bisa. Paling hanya bisa memainkan bagian pertama-tamanya, yang sering dijadikan dering bel pintu itu.

Dan dua lolipop mendarat di telapak tangannya dari violinist yang memperkenalkan dirinya, Raven d'Isley. Seniornya, rupanya. Dan... kalau nama keluarganya seperti itu, terdengar seperti nama Perancis, deh.

"Terimakasih permen-permennya," ucapnya sambil memasukkan lolipop itu ke dalam saku celananya. Kemungkinan besar tak akan Akio sentuh, berhubung ia tidak suka manis. Ia adalah orang yang akan mati karena penyakit darah tinggi kebanyakan makan makanan asin, bukan diabetes. "Err... senpai, Senpai dari Perancis?" tanyanya sebagai respon dari perkenalan diri senior bermata merah itu.

Pet lucu yang hampir jatuh itu pun, akhirnya menyebutkan nama dan kelasnya. Wah, ternyata semuanya seniornya. Ia sendirian yang masih kelas satu. "Valcryst-senpai, salam kenal juga," bungkuknya. "Dan yah, aku sangat setuju. Aku pun tak begitu tahan dengan piano yang butuh dedikasi kuat untuk dapat memainkannya dengan handal. "Jadi senpai berarti juga bisa main piano, dong, biarpun sedikit? Sudah pernah memainkan lagu apa saja? Buku apa saja yang sudah pernah dipakai?" tanyanya antusias.

Jadi topik hari ini benar-benar musik, ya.

Back to top Go down
View user profile
Sponsored content




PostSubject: Re: A Violinist With Headphone and Lolipop [ Open ]   Today at 4:09 am

Back to top Go down
 
A Violinist With Headphone and Lolipop [ Open ]
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» To Pour Salt Into An Open Wound...
» Work of Art (open to all)
» The Shivering Isles (Open To All!)
» Enemies Brought Together As One(Open, Pick N Play)
» Yoruyounaka Kaizokudan: Unknown Winter Island (open to anyone)

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Shiroi Gakuin :: Clock Tower-
Jump to: