Shiroi Gakuin


 
HomeHome  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Prince VS King [p]

View previous topic View next topic Go down 
AuthorMessage
Asagi Hiro



-Number of posts : 108
-Age : 22
-Side : yume
-Kelas : 1
-Registration date : 2009-12-08

PostSubject: Prince VS King [p]   Sun Aug 08, 2010 12:25 pm

Kaki sang pangeran kecil menjejak kuat ke tanah. Langkah demi langkah, menghasilkan bunyi bum bum kecil sementara dia berjalan. Hiro sedang marah, boleh kan? Tidak ada peraturan di dunia ini yang melarang seorang manusia untuk kesal, marah, sebal, dan perasaan negatif lainnya pada wanita jejadian. Itu hak asasinya. Titik!

Bibir pemilik surai coklat itu terkatup rapat. Tidak ada kata kata yang keluar bahkan saat dia melihat apa yang membuatnya sekesal ini sekarang. Tentu saja dia berhak kesal jika sepupunya, Tsukishiro Touya, sekarang tengah berduaan dengan nenek sihir jejadian Niwa Nanase. Salah satu yang tidak akan pernah diakui oleh Hiro dan juga menurutnya adalah keputusan yang paling salah yang pernah dibuat oleh Touya. Salah! Dan dia tidak akan pernah menyetujui apapun soal Niwa.

Sang pangeran membiarkan kakinya terus melangkah. Berputar putar tanpa arah hingga emosinya menyusut sendiri. Dia jarang marah, jarang emosi, juga jarang memberikan ekspresi kecuali cemberut di wajah. Sangat jarang. Walau Hiro tahu persis bahwa di dunia ini baru ada dua orang yang bisa menyulut emosinya dan memperlihatkan bahwa dia sebenarnya masih anak anak. Touya dan Tenno. Dua pemuda yang berbeda dimana salah satu dangat dihormatinya, sementara yang satu bersumpah akan dibencinya seumur hidup.

...Tambah sebal.

Sebuah bogem melayang ke pohon yang paling dekat dengannya. Tidak menghasilkan hal yang berarti kecuali lecet di tangan dan rasa sakit di kelima jarinya. Sakit, tapi setidaknya bisa digunakan untuk pelampiasan dan menetralisir emosinya yang telah meluap. Lumayan berhasil, bisa diakui. Tapi sepertinya jauh lebih efektif jika ada biolanya. Dan kabar baik untuknya sekarang adalah biolanya tertinggal di kamar asrama karena dia cukup bodoh langsung berlari pergi tanpa berpikir dua kali.

Payah.

Sekali lagi menghela napas. Manik emasnya bergulir pelan dari kanan ke kiri saat dia memandang sekelilingnya. Mengamati. Dia kenal tempat ini, pohon pohon, dan jalanan yang sekarang berada di bawah kakinya. Sudah setahun di sekolah ini, dan sudah cukup terbiasa denngan segalanya. Ya, tanpa terasa, di tempat yang jauh dari keluarganya, pangeran kecil bertambah usia setahun. Tapi sepertinya tingginya tidak ada perubahan. Sudut bibirnya berkedut saat mengingat bagaimana angka tingginya tidak banyak berubah, merasa agak sebal karena susu dua botol yang diminumnya tiap hari tidak terbukti menambah beberapa centimeter tubuhnya.

...Sebal lagi.

Mendongak memandang langit sementara tangannya secara otomatis menghalangi sinar masuk terlalu banyak dalam iris matanya. Ya, sang surya bersinar terik tanpa belas kasih, tidak perlu diragukan lagi, telah berjasa besar membuatnya kehilangan beberapa ion cairan tubuh. Panas. Dan menyengat. Tapi dia tidak mau kembali ke asrama. Tidak, jika harus kembali bertemu dengan nenek sihir yang tengah menempel erat sepupunya seperti lintah. Tidak akan.

Pohon tampak rindang untuk Hiro sekarang. Memilih salah satu ditempat yang tidak banyak orang yang akan melihatnya, dan duduk dibawahnya. Dedaunan menghalangi sang surya langsung menerpa dirinya sementara angin yang jarang bertiup sedikit membuatnya rileks. Menghela napas lagi.

Sudahlah. Beristirahat sebentar disini bukan ide buruk.

Mungkin.


Back to top Go down
View user profile
Tenno Seimei



-Number of posts : 201
-Age : 24
-Side : Negau
-Kelas : 3
-Registration date : 2009-12-08

PostSubject: Re: Prince VS King [p]   Thu Aug 12, 2010 10:21 pm

Tahun ajaran baru sudah mulai tertib berjalan dan dia seolah kembali terjebak dalam kehidupan sekolah yang monoton (dan agak menjemukan). Kalau saja tidak ada selingan-selingan pertemuan dan perkenalan kecil dengan beberapa orang yang menarik perhatiannya, bisa jadi dia kembali menghitung hari yang tersisa atas hukumannya di sini. Tidak sampai setahun lagi, hidupnya akan kembali seperti sedia kala, bahkan rasanya akan lebih mengasyikan dari sebelumnya.

Dia membuka mata dan melemparkan pandangannya dari jendela menara jam ke arah halaman yang sudah terlihat tidak terlalu ramai. Sudah berapa lama dia beristirahat siang di sini sejak bel sekolah berbunyi? Tampaknya belum terlalu lama. Masih siang di luar sana. Perutnya memberi alarm minta diisi. Benar juga. Belum makan siang. Mungkin dia akan mengejak beberapa anak untuk berkumpul ke cafe sekolah atau keluar asrama sekalian nanti. Dia tidak memiliki kegiatan apapun sore ini. Dia memutuskan untuk beranjak dan berlalu dengan santai menuruni tangga menara, tempat istirahat siang yang paling nyaman untuk melakukan apa saja.

Kakinya melangkah santai menyusuri halaman belakang sekolah sementara tangannya sudah kembali asyik bermain dengan seluler android miliknya. Forex trading barusan kembali memberinya kejutan kecil yang manis. Nilai saham pilihannya di luar dugaan kembali naik beberapa persen siang ini. Tidak banyak memang. Asalnya pun hanya sekedar iseng. Tapi dalam waktu tidak lebih dari seminggu, dia sudah berhasil membuat nilai uang saku sebulan naik menjadi dua kali lipat. Terima kasih pada jaringan internet yang memberinya banyak alternatif untuk tidak terlalu bergantung pada dana orang tuanya.

Matanya memandang ke sekelilingnya sesekali. Dia bisa melihat deretan tenda siswa yang tergabung dalam gerakan demonstrasi penghapusan pembedaan asrama di kejauhan. Dengar-dengar suasana sekolah semakin menegang gara-gara insiden kecil (baginya itu hanya insiden kecil) pada upacara penerimaan siswa baru waktu itu. Pembelotan ketua Yume atas pemisahan asrama yang berlanjut dengan pengasingan gerakannya menjadi kelompok baru yang berbeda membuatnya geli. Bahkan sejak awal kejadian pun dia hanya tertawa. Demonstrasi dimana-mana lebih sering terlihat seperti perjuangan aspirasi tak bermakna. Salahkan pemikiran pragmatis dan oportunis yang dia miliki. Baginya lobbying dan persuasif selalu menjadi cara yang lebih baik daripada tekanan frontal yang menghabiskan tenaga.

Baik, itu sama sekali bukan urusannya.

Lagipula ada yang lebih menarik untuk di simak di sebelah sana. Pandangannya sudah beralih pada sebuah pohon di salah satu sudut halaman. Ada yang duduk di bawah kerindangannya. Tidak perlu waktu lama untuk mengenali siapa di sana. Dalam jarak yang semakin dekat dia tahu perkiraannya sama sekali tidak salah. Bocah berambut dan bermata emas, kelihatan tidak banyak berubah setelah lebih dari setahun sejak pertemuan terakhir mereka. Asagi Hiro. Dia tertawa kecil. Dia sudah dengar mengenai keberadaan Hiro di sekolah ini dan sempat berpikir akan seperti apa bila mereka harus kembali bertemu. Tidak disangka akhirnya bisa bertemu siang ini, kali ini tanpa pengasuh berkaca matanya yang setia menemaninya. Karena pengasuhnya kini sudah jatuh dalam perangkap pesona seseorang? Analogi itu membuatnya tertawa dalam hati.

Apa Asagi Hiro masih sama arogan seperti dulu?

”Lihat siapa ini,” katanya santai seraya menghentikan langkah dan menyimpan selulernya di saku jasnya. Sepasang mata hitamnya memandang sepasang derivat emas yang tidak sedang mengarah padanya. Dia yakin dalam hitungan detik mata emas itu akan bergulir dan bereaksi menarik atas kehadirannya. ”Bocah tersesat yang sedang kehilangan pengasuh?” komentarnya dengan nada menyebalkan.

Mari bermain api sedikit.
___________________________________________________________________
Spoiler:
 




Last edited by Tenno Seimei on Fri Oct 29, 2010 9:24 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Asagi Hiro



-Number of posts : 108
-Age : 22
-Side : yume
-Kelas : 1
-Registration date : 2009-12-08

PostSubject: Re: Prince VS King [p]   Sun Sep 05, 2010 12:51 pm

Tuhan pasti membencinya.

Pemikiran pertama betapa dia telah dikutuk oleh Sang Pencipta terlintas di pikiran pewaris konglomerat Asagi. Apa ini gara gara dia menyebutkan nama si brengsek ini dalam pikirannya, dan dalam sekejap dia muncul begitu saja seakan ini pertunjukkan sulap. Ah, benar, jika ini sulap, dia ingin sekali menjadi orang yang menusukkan puluhan pedang ke kotak yang ada Tenno-nya. Pasti menyenangkan saat dia berharap yang berikutnya akan menusuk dan menembus tubuh tinggi itu supaya dia tidak perlu berhadapan dengan Sang Raja sekarang.

Cuma berharap boleh kan?

Dengusan sekali sebagai jawaban dari komentar menyebalkan yang tidak akan pernah menjadi favorit Hiro. Caranya berbicara, caranya bergerak, caranya memandang, caranya ada di dunia, semua tidak akan pernah menjadi hal yang ingin dia lihat. Seharusnya dia lenyap saja supaya hidupnya tidak perlu berada diantara kekacauan ini. Dia dan iblis jejadian itu. Tapi hidup tidak pernah semulus itu kan-- yah, kata ayahnya.

Doa tinggal doa.

Hiro mendongak memandang dengan caranya yang biasa. Cahaya matahari sama sekali tidak bersahabat sekarang membuatnya tanpa sadar menyipitkan mata, mengurangi cahaya yang menembus retinanya. Dan upaya setengah hati itu harus dibayar dengan dia menemukan pemandangan menyebalkan. Sama sekali tidak indah. Baju yang sama, seragam kuning gading yang sama walau dia tahu milik Tenno pasti seukuran lebih besar dari miliknya.

Dia ingin lebih tinggi.

Ini menyebalkan.

"Bisa tidak kau pergi dan menganggapku angin?" tanya Hiro datar dan sinis. Ya, dan sebagai gantinya aku akan senang hati menganggapmu debu.

Saat ini dia cuma malas berdebat.
Back to top Go down
View user profile
Tenno Seimei



-Number of posts : 201
-Age : 24
-Side : Negau
-Kelas : 3
-Registration date : 2009-12-08

PostSubject: Re: Prince VS King [p]   Wed Sep 08, 2010 9:02 pm

Ingatan apa yang masih tersisa di kepalanya mengenai bocah Asagi ini?

Di luar dugaan, ternyata masih cukup banyak hal yang bisa dia ingat tentang pretemuan mereka. Mungkin karena bocah ini termasuk salah satu dari segelintir orang yang berhasil mengusik perhatiannya? Dia menolak untuk menerima logika tersebut mengendap di otaknya. Asagi Hiro hanya seorang bocah payah pemalu yang tidak bisa lepas dari genggaman tangan orang tuanya. Itu yang dia ingat dari pertemuan pertama mereka dan akan selamanya begitu. Tantangan dan perseteruan yang digelar hanya membuatnya tertawa. Sekeras apapun usaha Hiro untuk merubahnya dia tidak akan pernah membiarkan Hiro mendapatkannya. Pada akhirnya perseteruan itu tidak lagi sekedar menjadi penentuan eksistensi seorang Asagi dan seorang Tenno, melainkan bergeser menjadi eksistensi seorang Siemei dan seorang Hiro. Tidak ada yang bersedia untuk mengalah, meskipun baginya, hasil sudah pasti terlihat, sejelas hitam dan putih, bahwa bocah tetap saja bocah.

Sayangnya Hiro sepertinya tidak sependapat.
Sayangnya lagi, dia tidak peduli Hiro yang tidak sependapat.

Jadi, apakah waktu yang berlalu sudah cukup membuat Hiro sadar siapa yang menjadi pemenang di sini atau dia memutuskan untuk tetap melanjutkan perseteruan tidak berujung itu? Ini menarik untuk disimak. Sejauh ini nyali seorang Asagi Hiro tidak pernah mengecewakan dan selalu membuatnya adrenalinnya menggelegak naik. awalnya dia menganggap sebagai sebuah gangguan kecil yang lantas bergeser menjadi sebuah tantangan kecil. Apakah kini statusnya telah berubah menjadi hiburan kecil? Dia tertawa dalam hati. Sepasang mata hitamnya mengamati setiap reaksi remaja di hadapannya. Dengusan yang dia tahu pasti dilandasi dari rasa terganggu hingga ke ujung rambut, nada datar dan sinis maupun pilihan kata yang dilontarkan sama sekali tidak membuatnya mengurungkan niat. Ekspresi itu justru membuatnya senang.

Ini menarik.

”Bisa tidak kau pergi dan mengaggapku angin?”

”Aku selalu menganggapmu angin...,” balasnya santai. Beri Hiro sedikit kesempatan untuk merasa lega dan puas dengan imajinasinya beberapa saat. ”...yang bermimpi meminta gunung berpindah,” sambungnya lagi disusul tawa bernada menyebalkan darinya. ”Dan kita sama-sama tahu itu hal yang tidak mungkin.” Sebelah tangan bertumpu pada batang pohon sementara tangan lain bersemayam di balik saku celananya. Tubuh sedikit menunduk memandang pemilik sepasang mata emas yang terduduk di bawahnya.

”Benar, Hiro-chan?”



Last edited by Tenno Seimei on Fri Oct 29, 2010 10:19 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
Asagi Hiro



-Number of posts : 108
-Age : 22
-Side : yume
-Kelas : 1
-Registration date : 2009-12-08

PostSubject: Re: Prince VS King [p]   Thu Sep 09, 2010 10:12 am

Hiro pernah terpikir bahwa pewaris konglomerat Tenno sepertinya punya masalah di otaknya. Ada sirkuit yang terpilin atau saklar yang tewas di antara neuron neuronnya sehingga dia tidak bisa menerima perintah, atau sekedar permintaan sopan sederhana darinya. Pergi-dari-sini. Apa tiga kata itu sesusah itu direalisasikan? Tinggal berjalan, melangkahkan kaki, cari tempat lain, menghilang. Tidak akan ada perdebatan, pertengkaran, perselisihan, konfrontasi, atau... apapun terserah.

Sepertinya ini masalah kepribadian.
Dan dia tahu persis kepribadian Tenno membuatnya muak.

”Aku selalu menganggapmu angin...,”

Bagus. Lalu kenapa sekarang mengajaknya bicara?

”...yang bermimpi meminta gunung berpindah, dan kita sama-sama tahu itu hal yang tidak mungkin.”

Hiro memandangnya sambil mengerutkan kening. Tawa menjijikkan Tenno lewat begitu saja di telinganya, malas menanggapi lebih banyak. Apa maksud si-idiot barusan? Memangnya ada poin apa dari kalimat yang baru saja dikatakan Tenno? Kenapa kalimatnya yang jelas sekali menyiratkan soal pergi-sana-kau, bisa berganti konotasi dan diputar balikan secara aneh dan membingungkan seperti ini? Sepertinya benar dugaannya semula. Ini masalah otak.

...Otaknya jelas bermasalah.
Diagnosa lain, gila.

Hiro bergerak kali ini. Menggerakkan kakinya, memindahkan tumpuan dari pantat ke kaki. Berdiri dari duduknya, mengibaskan debu debu baik yang imajiner atau tidak dari seragam kuningnya. Sebenarnya dia cukup masa bodoh dengan kotor. Walau Hiro jelas payah dalam urusan cuci mencuci atau setrika menyetrika, di dunia ini ada yang namanya laundry. Aman dan praktis.

Bola mata emas itu kembali menatap tajam sang raja. Ada satu hal yang membuatnya agak malas berdiri sebenarnya. Bukan karena tanah tiba tiba berubah menjadi seempuk sofa, tapi ini masalah harga diri. Harga dirinya.Ya, seperti sekarang saat dia sudah tegak berdiri. Berdiri dengan kedua kakinya yang menapak sempurna di bumi, tapi tingginya hanya mencapai bahu Tenno.

Tuhan tidak adil padanya.

Dia benci mendongak, Apalagi mendongak di depan Tenno. Sudut mulutnya otomatis melengkung ke bawah saat otaknya berputar penuh kemarahan. Cemberut parah. Dan manik keemasannya kembali menatap tajam ke sepasang manik lain. Kenapa sosok gila didepannya bisa memiliki semua yang dia inginkan?

...Perutnya mulai sakit.

"Baik, kalau kau tidak mau pergi, aku yang pergi."

Ini cuma masalah Laundry, cari yang aman dan praktis. Atau lama lama nanti dia bisa mati karena darah tinggi... atau maag. Dan kata -chan tidak membantunya menenangkan diri.

"Kau ini sebenarnya cuma ingin mencari masalah denganku kan?"

cuma bertanya, tidak butuh jawaban.
Back to top Go down
View user profile
Tenno Seimei



-Number of posts : 201
-Age : 24
-Side : Negau
-Kelas : 3
-Registration date : 2009-12-08

PostSubject: Re: Prince VS King [p]   Sun Sep 26, 2010 9:08 am

Pangeran kecil itu akhirnya beranjak dari duduknya. Ralat, dirinya tidak pernah sepakat bila ada yang menyebut bocah itu sebagai pangeran kecil dari keluarga Asagi. Yang dilihatnya berdiri di depannya hanyalah seorang bocah laki-laki yang bahkan untuk menatap mata hitamnya saja harus mengangkat sedikit dagunya yang lembut itu. Bocah yang sepertinya tidak pernah bisa terlihat tenang dan puas dengan posisinya yang sudah pasti tidak akan pernah bisa menyamainya. Ternyata waktu setahun belum cukup untuk merubah banyak bentuk fisik dan sikap bocah ini menjadi lebih dewasa, minimal bisa lebih tahu diri dan menerima.

Apa ada masalah dengan pertumbuhannya?
Pikiran itu membuatnya ingin tertawa.


Bola mata emas itu menatapnya tajam-tajam. Tidak perlu seorang ahli untuk memberitahu seberapa besar tingkat kejengkelan yang sedang dirasakan Asagi terhadap dirinya, meskipun menurut dia tidak ada alasan yang bisa digunakan bocah itu untuk marah tanpa sebab padanya, seperti sejak awal mereka bertemu. Dia hanya berbicara sedikit dan bocah ini sudah cemberut tidak jelas padanya. Dulu dia menganggapnya sebagai sesuatu yang merepotkan. Tapi sekarang, setelah sekian waktu berlalu, ekspresi itu jadi terlihat lucu dan menarik. Dia tersenyum sekilas.

Bagaimana kalau beramah-tamah sedikit?

”Apa kabar, Hiro?” sapanya santai, sama sekali tidak terusik dengan remaja yang masih saja cemberut dan menatap dirinya tajam-tajam di hadapannya itu. ”Tidak bisa berhenti mengikutiku sehingga memilih sekolah ini juga?” Tentu saja dia tidak serius dengan kalimatnya barusan.

"Baik, kalau kau tidak mau pergi, aku yang pergi."

Dia tertawa.

”Santailah,” katanya. ”Apa begitu kebiasaan keluarga Asagi menjawab sapaan orang?” tanyanya dengan nada ringan. ”Kabur begitu saja sambil cemberut parah?”

"Kau ini sebenarnya cuma ingin mencari masalah denganku, kan?"

Ck, keras kepala!

”Tidak,” katanya santai tanpa peduli akan didengar atau tidak. ”Hanya mengungkap fakta,” ujarnya sementara tangannya terulur meraih dagu halus itu dan mengangkatnya sedikit, sama sekali tidak menggubris reaksi apa yang akan diterima kemudian. Apapun itu, prediksi sudah tersusun dalam kepalanya. Matanya menelusuri wajah Asagi Hiro dalam sepersekian detik, lalu tertawa kecil. ”Tidak berubah,” katanya setengah mengejek. ”Tsukishiro dan ayahmu layak kecewa.”



Last edited by Tenno Seimei on Fri Oct 29, 2010 10:21 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
Asagi Hiro



-Number of posts : 108
-Age : 22
-Side : yume
-Kelas : 1
-Registration date : 2009-12-08

PostSubject: Re: Prince VS King [p]   Wed Oct 13, 2010 8:58 am

Terus terang dia bukan seseorang yang bermimpi untuk membaca pikiran seseorang. Baginya semua itu bukan masalah tentang apa yang ada dipikiran orang orang. Tapi pikiran Tenno mengenai dirinya bisa dibacanya dengan mudah seperti lembaran buku dengan aksara sebesar dua puluh font dan berjarak kurang dari tiga puluh centi di matanya.

Dia pasti hampir tertawa.

Banyak pilihan yang membuat si monyet di depannya tertawa. Pertama mungkin soal tinggi badan yang sudah disadarinya sejak lama telah berkhianat padanya. Kedua, diagnosa gila dan korsleting otak mungkin benar benar terjadi. Secara pribadi Hiro memilih yang kedua, karena jika Tenno benar benar gila, itu bukan masalah buatnya.

”Apa kabar, Hiro-chan?”

Satu kalimat sederhana yang dalam konotasi benar berfungsi untuk basa basi dan ramah tamah keluar dari Tenno. Ya, dan satu kalimat sederhana tadi telah berakibat banyak padanya. Kau bisa bilang bulu kuduknya meremang, dan sejauh ini semua yang menyangkut pautkan bulu roma adalah firasat yang tidak baik. Sama sekali tidak.

”Tidak bisa berhenti mengikutiku sehingga memilih sekolah ini juga?”

Benar kan.

Ya, tapi kalau mau jujur dia jauh lebih nyaman dengan kalimat kedua tadi pada kalimat yang tadi. Walau artinya bahwa terompet perang baru saja ditiupkan dan Hiro tidak akan sudi mengalah. Apapun akan dikatakan untuk membalas. Tampak menyedihkan dan hanya terdiam saat kehabisan kata kata di depan musuh besarnya sejak lama bukan hal yang akan dipilihnya sekarang. Terima kasih banyak.

"Bagaimana dengan sekolahmu di luar negeri?" Pertanyaan biasa, anggap saja dia beramah taman, "Pindah ke sini, apa artinya 'kau yang hebat' itu didepak ke sini?"

”Santailah,”

Mana bisa?

”Apa begitu kebiasaan keluarga Asagi menjawab sapaan orang? Kabur begitu saja sambil cemberut parah?”

Mengatupkan rahangnya dengan erat. Kakinya masih menjejak erat di atas tanah dan belum melangkah. Masa bodoh dengan udara panas menyengat dimana matahari sekarang tepat berada di atas kepalanya. Panas dari sang surya belum ada apa apanya dibandingkan panas di kepalanya sekarang. Dia ingin pergi, ingin segera menghilangkan bayangan seorang Tenno Seimei dari retinanya. Tapi dengan kalimat barusan, dia jelas tidak bisa melakukannya. Tidak sudi, jika dia akan dinilai kabur seakan sedang ketakutan pada sosok yang menurutnya gila. Dia tidak takut! Dia cuma muak.

”Tidak,” katanya santai tanpa peduli akan didengar atau tidak. ”Hanya mengungkap fakta,”

Kau menyebalkan Tenno Seimei!

Dagunya diangkat, memaksanya bertatapan mata dengan si monyet gila. Sedikit sentuhan di dagunya. Mungkin hanya beberapa detik yang singkat, sebuah koneksi singkat diantara mereka membuatnya merasa tersengat. Aneh. Dan tidak nyaman, sama sekali tidak, termasuk debaran kecil dibagian dada yang diabaikannya dengan cepat. Tangan Hiro bergerak nyaris refleks, menepis dengan cepat, menghentikan koneksi apapun pada dirinya. Sopan atau tidak sama sekali bukan urusannya sekarang.

”Tidak berubah,” katanya setengah mengejek. ”Tsukishiro dan ayahmu layak kecewa.”

Bola matanya melebar, gigi yang bertaut tampak sekarang di sela bibirnya. Jika ada kesempatan dia akan senang sekali membenamkan giginya diantara daging di lengan Tenno. Menatap tajam penuh kebencian, meledak dengan marah.

"Jangan sentuh aku! Dasar gay!"

Masa bodoh dengan apa yang akan didapatkannya setelah ini.
Back to top Go down
View user profile
Tenno Seimei



-Number of posts : 201
-Age : 24
-Side : Negau
-Kelas : 3
-Registration date : 2009-12-08

PostSubject: Re: Prince VS King [p]   Sun Oct 17, 2010 2:21 am

"Bagaimana dengan sekolahmu di luar negeri? Pindah ke sini, apa artinya 'kau yang hebat' itu didepak ke sini?"

Barusan itu, maksudnya sindiran balasan?

Sudut bibirnya bergerak sedikit membentuk senyum mengejek yang tidak kentara. Usaha yang tidak jelek. Bocah Asagi ini masih tetap tidak bersedia untuk mengaku kalah di hadapannya, sama seperti Asagi Corp. yang tidak pernah bersedia menyerah dalam persaingan bisnis mereka. Apa semua Asagi memang dilahirkan untuk menjadi keras kepala begini? Sepuluh tahun lalu Asagi Hiro yang dilihatnya hanyalah seorang anak laki-laki pemalu yang tidak mau jauh dari tangan ayahnya, seolah gangguan kecil saja sudah cukup membuatnya menangis dan berlari pulang. Payah dan membosankan. Di luar dugaan Hiro mendadak muncul beberapa tahun kemudian mencoba mengusik posisinya. Apakah itu sebuah bentuk reaksi pembalasan atas strategi Tenno corp. yang perlahan mulai mengancam eksistensi Asagi dalam peta bisnis lokal Jepang?

Situasi yang menarik untuk diamati kembali.

Dia tertawa kecil.

”Aku terkejut kau tahu keberadaanku di sana,” katanya dengan nada ringan, tidak peduli dengan kalimat sindiran yang barusan dilontarkan. ”Masih mengejar informasi tentangku?,” ujarnya. ”Kenapa tidak cari sekalian jawabannya?” tambahnya santai.

Hiro masih tetap tegak berdiri. Dia tahu bocah itu tidak akan pergi begitu saja setelah mendengar kalimat-kalimat yang telah mengusik harga diri seorang Asagi Hiro. Tersadar sejenak dan tertawa dalam hati saat menyadari sejauh apa dia telah memprediksi sikap bocah di hadapannya. Apa sebetulnya dia pun tak jauh beda dengan Hiro, diam-diam selalu mencari tahu dan mengamati kebiasaan dan perkembangan lawan? Bukan hal jelek. Sudah dibilang cara pandangnya telah bergeser. Lihat itu bola mata emas yang makin melebar dan rahang yang makin mengeras setelah bocah itu menepis tanganya. Ekspresi marah itu kelihatan lucu dan indah.

Mari hitung mundur.

Tiga… dua... satu....

"Jangan sentuh aku! Dasar gay!"

Tidak suka disentuh? Atau belum pernah disentuh?

Hiro perlu belajar sesuatu.

Pernah dengar pendapat yang mengatakan bahwa kalimat ‘jangan’ justru terdengar seperti sebuah undangan yang menggoda? Dia tidak akan heran bila misalnya pengalaman pergaulan seorang Asagi Hiro ternyata masih minim dan dia tidak keberatan untuk menunjukkan sedikit bagaimana ‘pergaulan’ itu pada Hiro. Tangannya mendadak terulur dengan cepat mencekal lengan Hiro tanpa peringatan dan memutar bahu Hiro sedikit. Wajahnya mendekat dalam hitungan sepersekian detik. Bibirnya menutup jarak. Singkat. Sekilas. Hanya sekedar mengecap. Di luar dugaan. Bocah ini terasa lembut di lidahnya. Dia menarik wajah dengan segera dan mengendurkan cengkraman, sama sekali tidak peduli bila ada yang memergoki perbuatan spontan barusan atau apapun yang Hiro lakukan padanya. Dia tahu ada konsekuensi yang menanti, tapi bukan dia namanya bila masih menimbang soal resiko hanya untuk menghadapi seorang Asagi Hiro.

”Sayangnya sudah kulakukan,” balasnya ringan seperti biasa.

Protes?


Last edited by Tenno Seimei on Sun Nov 07, 2010 4:36 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
Asagi Hiro



-Number of posts : 108
-Age : 22
-Side : yume
-Kelas : 1
-Registration date : 2009-12-08

PostSubject: Re: Prince VS King [p]   Mon Oct 18, 2010 11:11 am

Menjadi seorang putra konglomerat sebenarnya tidak semenyenangkan bayangan orang orang yang terus bermimpi untuk punya kartu kredit platinum. Hiro bisa membeli apa saja yang dia inginkan sampai dia muak, tapi tentu saja segalanya selalu ada gantinya. Seperti contohnya pesta. Seminggu beberapa kali dia harus mengenakan pakaian resmi yang jarang dia pakai dua kali. Tersenyum palsu sesekali, memaksakan bersikap sopan pada orang yang lebih tua dengan segelas jus di tangan, sementara yang dia inginkan hanya pulang.

Orang kaya suka pesta itu fakta. Ajang pamer kekayaan, perluasan koneksi dan informasi. Lebih mirip seperti arena pertandingan dimana semuanya menjaga sikap dan gengsi. Bahkan bukan hal aneh jika para moral rendahan dengan pakaian mengkilap mulai bergunjing dan menusuk orang dari belakang hanya berbekal pedang kata kata. Memegang kelemahan lalu menggunakannya, kau bahkan tidak akan tahu kapan dia akan menjadi teman atau lawan. Tidak menyenangkan. Dan akhir akhir ini anak laki laki keluarga Tenno termasuk topik favorit untuk dibicarakan.

Tapi buat apa dia menjelaskan itu semua?

”Aku terkejut kau tahu keberadaanku di sana,”

Bukan mauku, aku juga lebih suka kalau mereka menutup mulut.

”Masih mencari informasi tentangku rupanya,”

Sejak kapan?

”Kenapa tidak cari sekalian jawabannya?”

Bibir Hiro berkedut. Pandangan tajam kedua lensanya masing masing mengarah tajam ke Tenno, "Jangan sok." Kalimat dingin keluar dari bibirnya, "Apa yang kau banggakan? Puas sudah menjelek jelekkan nama keluargamu sendiri?"

Penghinaan yang baru saja diteriakkan olehnya mendapatkan balasan. Sejenak apa yang ada dipikirannya setelah tangannya terkunci dalam cengkraman tangan besar Tenno adalah kemungkinan akan adanya bogem mentah meluncur ke wajahnya. Mungkin tamparan, atau sesuatu yang menyakitkan. Hiro akan menerimanya, bohong tentu saja, karena segera setelah ada kunjungan fisik di tubuhnya, dia akan membalas balik.

"Lep.." dan bibirnya terkunci. Cuma singkat walau sisanya tetap terasa hingga bermenit menit setelahnya. Bukan pukulan, bukan tamparan, tapi ciuman. Ciuman pertamanya. Kau bisa bilang koneksi otaknya terhenti sedetik sementara tubuhnya bergerak lebih jujur. Bola mata membulat sebelum kesadaran menyergapnya dengan kecepatan yang mengagumkan.

Berontak!
Dorong!
Lepaskan diri!

”Sayangnya sudah kulakukan,”

Emosi sampai keujung pangkal rambut kecoklatannya untuk saat ini. Itu memang ciuman pertamanya, tapi dia bukan gadis yang akan menangis stres karena monster sialan menodai bibirnya untuk pertama. Yang ada dipikirannya hanya satu, bahwa Tenno sedang mempermainkannya, penghinaan besar, dan itu artinya Tenno harus membayarnya dengan mahal. Oh ya, bukannya dia sempat berpikir 'jika ada kesempatan dia akan senang sekali membenamkan giginya diantara daging di lengan Tenno'? Sekarang dia punya, alasan.

Dan kesempatan.

Sepasang tangan Hiro terulur dan mencengkram tangan Tenno. Semuanya berlangsung dengan cepat, bahkan dia tidak perlu berpikir dua kali untuk melakukannya. Tanpa keraguan, gigi putih yang rajin digosoknya dua kali sehari terbenam tanpa ragu di lengan kanan Tenno. Gigit, dan lukai, sekuatnya. Pembalasan dendam.

Tidak mungkin kubiarkan berakhir begitu saja, brengsek!
Back to top Go down
View user profile
Tenno Seimei



-Number of posts : 201
-Age : 24
-Side : Negau
-Kelas : 3
-Registration date : 2009-12-08

PostSubject: Re: Prince VS King [p]   Fri Nov 19, 2010 12:22 am

Dia bertaruh, sentuhan itu pasti yang pertama untuk bocah sekuper Asagi.

Tidak ada alasan khusus yang membuatnya melakukan itu selain dorongan untuk memberi sedikit pelajaran pada Hiro. Nase mungkin akan tertawa dan menganggapnya gila. Tapi dia tidak sedang gila. Dia sadar sepenuhnya saat menyentuh mulut Asagi. Tidak ada yang istimewa meskipun tidak bisa dibilang buruk juga. Anggap saja sapaan dan sentuhan fisik yang dia lakukan adalah sebentuk kecil sambutan dan perayaan atas pertemuan mereka setelah setahun lebih berlalu. Bukankah itu yang harusnya dilakukan oleh seorang kakak kelas yang baik?

Dia tidak keberatan dengan ide tersebut.

Tawa kecil keluar dari mulutnya ketika Hiro mendorongnya sekuat tenaga, membuatnya mundur sedikit. Anak ini benar-benar tidak bisa diajak bersantai dan bersenang-senang sedikit. Meskipun dia tahu Asagi pasti tidak akan diam saja setelah diperlakukan seperti itu, tetap saja dia tidak sempat menghindar saat Asagi serta merta mencengkeram lengannya. Puntiran? Pukulan? Tendangan? Beberapa skenario perlawanan muncul di kepala. Coba saja kalau Asagi bermaksud menantangnya dengan adu kekuatan di sini. Sayang perkiraannya meleset bersamaan dengan serangan deretan gigi omnivore kecil pada permukaan jaringan kulitnya. Dia mengerutkan dahi.

Gigit?

Dia mengeluh pendek ketika merasakan sengatan ngilu itu menyerang lengannya. Asagi memaksa sekuat tenaga. Bisa jadi lengannya sudah terluka sekarang. Mungkin di luar, mungkin di dalam. Refleks dia berusaha mengibaskan lengannya sekuat tenaga dan mendorong kepala Asagi, mencoba membebaskan lengannya. Brengsek! Terjajar sedikit karena tarikan tenaganya sendiri. Berdarah atau tidak, dilihat nanti saja. Tidak penting. Tenaga Asagi sedikit berbeda dari yang terakhir kali dia perkirakan. Tapi tetap saja, Asagi masih harus berusaha keras sebelum bisa mengalahkannya. Dia mengatur nafas.

“Lawan aku dengan benar, jangan main gigit seperti perempuan,” ujarnya mencoba mengabaikan rasa ngilu yang terasa. Seringai mengejek keluar dari mulutnya setelah dia mendapatkan kembali keseimbangannya. Sentuhan terakhir, “Atau memang hanya itu bisamu?” tambahnya dengan nada meremehkan. “Brat!,” gumamnya.

Sebuah pemikiran menadak muncul di kepala. Bagaimanapun permainan sudah mulai digelar di antara mereka. Dia tahu Asagi pasti tidak akan mau berhenti sampai di sini. Urusannya bisa jadi lebih tidak terkendali bila dia biarkan Asagi mengumbar amarahnya di sini. Bukan berarti dia tidak bersedia menghadapi tingkah bocah ini. Dia hanya berpikir itu terlalu merepotkan untuk dibiarkan. Sepasang mata hitamnya memandang Asagi , kali ini dengan serius.

“Tidak terima?” tanyanya. “Kita selesaikan,” katanya tenang. “Sabtu pagi, jam 8, lapangan tenis.”

Seingatnya Asagi tidak akan pernah menolak sebuah tantangan.


Back to top Go down
View user profile
Asagi Hiro



-Number of posts : 108
-Age : 22
-Side : yume
-Kelas : 1
-Registration date : 2009-12-08

PostSubject: Re: Prince VS King [p]   Thu Jan 20, 2011 2:08 pm

“Lawan aku dengan benar, jangan main gigit seperti perempuan,”

Bibir Hiro berkedut. Jemarinya mengepal siap melayang ke wajah orang yang paling dibencinya dimuka bumi ini kapan saja. Siapa yang mulai pertengkaran memangnya? Bukannya sejak awal Hiro sudah mengatakan bahwa dia, si idiot Tenno, untuk pergi dari tempat ini dan meninggalkannya?

“Atau memang hanya itu bisamu? Brat!,”

Kau mau mati, Tenno Seimei?

Lalu tantangan.

Asagi Hiro sedang diberi tantangan. Sesuatu hal yang jelas sangat mustahil hanya ditepis olehnya atau menghindar. Tidak semudah itu, Tenno Seimei. Sama sekali tidak akan berakhir mudah. Tenis. Olahraga dengan bola berwarna hijau kekuningan dimana secara keseluruhan dia belum pernah menang dari pemuda berambut hitam di depannya. Brengsek, tidak bisakah kekalahan yang itu dilupakan dulu? Maaf saja, dia tidak berniat kalah untuk kesekian kalinya besok.


Benci kalah, tapi menyukai adrenalin yang muncul saat dia bertanding. Senang saat terjebak dalam situasi yang menentukan siapa yang menang dan kalah. Sebuah kontradiksi yang terbukti tidak membuat hidupnya makin mudah. Bukan untuk bergaya, bukan untuk menyombongkan pada orang-orang bahwa dia punya kualitas yang layak dari beberapa manusia. Hiro sungguh sungguh menganalisis kemampuannya. Memaksakan diri dan mengetahui sebatas mana dirinya mampu bertahan. Dan baru setelah itu dia bisa memperbaiki dan belajar. Menjadikan dirinya lebih baik, membuktikan bahwa dia bukan orang yang hanya mampu bicara.

Bukan Tenno Seimei.

Hiro menganggap serius akan tenis, sama seriusnya saat dia berlatih menggesek biolanya. Tapi tantangan yang mendadak ini tidak terlalu memberinya banyak keuntungan. Dia sudah cukup lama tidak berlatih memukul bola. Tidak tahu seberapa besar kemundurannya dari saat dia masih terus mengayunkan raket dan berlatih dengan sepupunya. Berlatih dan beratus ratus kali kalah.

Tidak masalah.

Dia tidak akan kalah.

"Jangan kabur." Manik emas itu menyipit tajam. Lengkung tipis muncul dibibirnya, mengganti cemberut parah yang ada menjadi sebuah suatu simbol yang lebih ramah. Tapi sorot matanya tidak. Ada kilatan tekad dan janji dalam pandangan sang tuan muda. Senang dan benci.

Lagi lagi kontradiksi.

Aku akan membuatmu sengsara.



[Hiro OUT]
Back to top Go down
View user profile
Sponsored content




PostSubject: Re: Prince VS King [p]   Today at 8:24 pm

Back to top Go down
 
Prince VS King [p]
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 1
 Similar topics
-
» King of the Hill
» King's Own Royal Regiment Museum
» 3523 Private G. Puzey, 3/60th Foot, King's Royal Rifle Corps.
» Scarlett King (Finished)
» King Thanos

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Shiroi Gakuin :: Way of Heaven-
Jump to: